RADARSOLO.COM-Paduan suara anak dan remaja asal Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Vocalista Angels kembali membanggakan Indonesia di kancah internasional.
Usai menampilkan dua lagu yakni Janger dan Dara Lumau, mereka dinobatkan sebagai World Choir Games Champion 2026 untuk kategori Folklore with Accompaniment dengan nilai 94,60 poin pada ajang Competition World Choir Games (WCG) 2026 di Helsingborg, Swedia, Senin (10/8/2026).
Tak hanya memboyong gelar juara dunia, Vocalista Angels juga sukses meraih Medali Emas dengan raihan 88,88 poin.
Baca Juga: Beras hingga Telur Dibanderol Miring, Warga Serbu Pasar Murah di Purwosari
Sekaligus menempati peringkat keempat dunia pada kategori Children’s Choir pasca membawakan empat lagu yakni Cikala Le Pong Pong, The Waters Dance of Lluvia, A Puppet’s Dream dan Yamko Rambe Yamko.
Prestasi gemilang tersebut terasa kian istimewa karena WCG 2026 merupakan panggung kembalinya Vocalista Angels ke ajang kompetisi paduan suara terbesar di dunia setelah absen selama 12 tahun.
Kemenangan itu sekaligus menambah koleksi gelar Juara Dunia ketiga bagi Vocalista Angels.
Setelah sebelumnya menyabet gelar serupa pada WCG 2010 di Shaoxing, Tiongkok (Folklore with Choreography) dan WCG 2012 di Cincinnati, Amerika Serikat (Children’s Choir).
Pendiri Bersama dan Pembina Vocalista Angels Catharina Advenita Tersierra Rosa atau yang akrab dipanggil Thea ini menyampaikan rasa haru dan bangganya atas capaian para anak didiknya di Helsingborg.
“Ini adalah kemenangan generasi baru Vocalista Angels. Selama tujuh bulan mereka berlatih, belajar, dan bertumbuh bersama. Hari ini, mereka tidak sekadar mengulang cerita yang pernah ada, tetapi telah menuliskan halaman baru mereka sendiri di panggung dunia,” ungkap Thea dalam rilis yang diterima radarsolo.jawapos.com, Senin (10/8/2026) malam.
Baca Juga: Harga Beda Tipis, Pilih Wuling Aira EV atau Toyota Agya dan Honda Brio, Mana yang Lebih Menarik?
Setelah menyelesaikan kompetisi di Helsingborg, kontingen Vocalista Angels dijadwalkan melanjutkan perjalanan ke Kopenhagen, Denmark.
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kopenhagen bakal menggelar acara penyambutan dan penerimaan resmi bagi kontingen pada Selasa (11/8/2026).
Rombongan paduan suara kebanggaan Klaten dan Indonesia ini dijadwalkan tiba di Jakarta pada Kamis (13/8/2026).
Sementara itu, di balik raihan nilai tinggi dan piala kejuaraan tersebut, ada perjuangan luar biasa dari dari anggota paduan suara tersebut.
Pelatih Vocalista Angels Yason Christy Pranowo mengungkapkan, sekira 80 persen anggota tim yang berangkat ke Swedia kali ini merupakan wajah baru yang belum pernah merasakan atmosfer kompetisi tingkat dunia.
Baca Juga: Pastikan Program Tepat Sasaran, Bupati Klaten Tinjau Pelaksanaan Rehab RTLH di Sajen Trucuk
"Ini betul-betul tim baru. Harusnya mereka mungkin dipoles dulu lewat festival skala bawah, tapi ini tiba-tiba langsung ke WCG. Tekanannya sebenarnya cukup berat, tapi puji Tuhan sekarang sudah lega," ujar Yason dikutip dari akun Instagram @beyondnotes_id.
Yason membeberkan, persiapan intensif dilakoni selama enam hingga tujuh bulan lamanya.
Dalam masa penggemblengan tersebut, para anggota paduan suara menjalani porsi latihan maraton yang amat padat.
"Rata-rata mereka berlatih sampai tujuh hingga delapan jam sehari, hampir setiap hari selama enam bulan intensif," terangnya.
Selain durasi latihan yang berat, para anggota juga dituntut menjaga disiplin tinggi dan pola hidup ketat demi menjaga kualitas vokal.
Baca Juga: Persik Kediri Pilih Solo untuk TC, Marcos Reina Puas dengan Progres Tim
Pantangan makanan seperti gorengan harus dihindari total, pola tidur diatur ketat dan ketepatan waktu dalam berlatih.
"Anak-anak dilatih mandiri dan tidak manja ke orang tua. Tidak boleh terlambat sama sekali, kalau terlambat ada hukumannya. Mereka juga diajarkan tidak gampang mengeluh, bahkan kalau dimarahi saat latihan, tetap harus belajar tersenyum," tambah Yason.
Lebih lanjut, ia berkomitmen mendampingi dan membina paduan suara tersebut selama hampir tiga dekade sejak berdiri pada tahun 1997.
Didasari oleh misi sosial dan impian besar untuk anak-anak di daerah.
Baca Juga: Mengenal Wushu Taolu, Indahnya Jurus yang Dibayangi Kerumitan Penilaian
"Saya bermimpi ingin membangun anak-anak desa agar bisa bermusik. Di kota, anak-anak dengan mudah bisa ikut les musik dan seleksi. Tapi anak-anak di sini kita bibit dari nol, dari tidak paham musik dan solmisasi sampai mereka bisa. Musik berkualitas tinggi tidak hanya milik anak-anak kota saja, tapi anak-anak desa juga bisa jika semangatnya digerakkan," urai Yason. (ren)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com