RADARSOLO.COM-Pakaian necis dan ruangan ber-AC pernah menjadi bagian dari keseharian Mateus Eddy Nugroho, 52.
Selama 23 tahun, ia mengabdi sebagai manajer marketing di salah satu ritel fashion terkemuka di Klaten dan sekitarnya.
Namun, roda kehidupan berputar. Eddy pensiun pada 2020 yang saat itu bersamaan dengan momen Pandemi Covid-19.
Hal itu menjadi awal perjumpaan Eddy dengan tumpukan sampah yang selama ini dihindari banyak orang di desanya.
Baca Juga: Meriahkan HUT ke-81 RI, Warga Gombang Boyolali Tebar Ratusan Kilogram Lele di Saluran Air
Lewat TPS3R Omah Limbah yang didirikannya di Desa Gempol, Kecamatan Karanganom, Eddy membalikkan stigma sampah.
Dari ancaman pencemaran menjadi sumber daya berkelanjutan.
Sebelum memantapkan hati di dunia pengolahan sampah, Eddy sempat menjajal berbagai usaha.
Mulai dari berjualan bibit tanaman hias, reseller beras organik hingga reseller pakaian.
Secara finansial usaha tersebut berjalan cukup baik, tetapi ada kehampaan batin yang belum terobati.
Baca Juga: Remake, Reboot, Reimagining, Sequel, Prequel, dan Spinoff, Apa Bedanya?
"Secara finansial oke, tapi saya merasa belum menemukan apa yang dicari," kenang Eddy saat ditemui radarsolo.jawapos.com, Rabu (12/8/2026).
Rasa itu membawanya kembali pada memori kelam tahun 2014 saat ia diserang penyakit jantung koroner.
Pengalaman henti jantung yang dirasakannya seperti mati suri itu meninggalkan janji spiritual.
Dalam pergulatan antara hidup dan mati kala itu, ia berikrar untuk mendedikasikan sisa hidupnya membantu orang banyak.
Niat pengabdian tersebut membawanya mendatangi Balai Desa Gempol pada pertengahan 2020.
"Selama 23 tahun saya kerja berangkat pagi pulang malam. Praktis di desa cuma menumpang tidur dan makan. Saya bilang ke pemerintah desa, ingin mengabdi," tuturnya.
Baca Juga: BYD Racco Tiba-tiba Nongol di Instagram BYD Indonesia, Sinyal Bakal Segera Dijual di Tanah Air?
Pemerintah Desa Gempol lantas membeberkan salah satu kendala yang belum terpecahkan yakni pengelolaan sampah.
Hingga akhirnya Eddy meminta waktu dua hari untuk berpikir guna mempertimbangkan apakah hendak mengabdikan diri pada pengelolaan sampah tersebut.
Saat itu, ia juga melihat, desanya yang kaya akan belasan sumber mata air justru tercemar oleh timbunan sampah liar.
Salah satunya tumpukan popok sekali pakai yang saat itu sempat dibersihkannya dan jumlahnya mencapai lima armada pick-up.
Dua hari kemudian, ia kembali ke balai desa dengan satu kepastian untuk siap terjun dalam pengabdiannya pada pengelolaan sampah.
Langkah awal merintis TPS3R Omah Limbah dimulai bersama dua keluarga lainnya di desanya.
Eddy mengumpulkan modal swadaya sebesar Rp 25 juta pada akhir 2020. Mereka membangun hanggar semi-permanen berukuran 3x6 meter.
Termasuk melayani 38 rumah pelanggan awal menggunakan sepeda motor roda tiga pinjaman desa.
Untuk mengurai sampah organik, Eddy merangkul pemuda setempat untuk memproduksi maggot Black Soldier Fly (BSF).
Meski bisnis budi daya maggot komersial jauh lebih menguntungkan, Eddy memilih tetap fokus pada lini penanganan sampah.
Baca Juga: Pedagang Pasar Tawangmangu Ikuti Upacara HUT Kemerdekaan RI di Lorong Kios
Perjuangan itu membuahkan hasil. Terutama setelah kegiatannya termuat di media massa serta pendampingan intensif dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Klaten dan Kementerian LHK membawa berkah tersendiri.
Omah Limbah mendapatkan alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk pembangunan fasilitas TPS3R seluas 20x10 meter.
Lengkap dengan fasilitas mesin pencacah, pengayak dan armada motor roda tiga.
Saat itu, TPS3R Omah Limbah pun berdiri sebagai salah satu pioner pengelolaan sampah berbasis integrasi dengan maggot BSF di Klaten.
Hingga kini mampu mengelola 10-15 ton sampah per bulan yang berasal dari 250 rumah pelanggan di Desa Gempol dan Pondok, Kecamatan Karanganom, Klaten.
Pelanggan yang disebutnya sebagai Sahabat Omah Limbah memang berkembang di dua desa sekaligus.
Menariknya, Eddy berhasil mengedukasi para pelanggannya untuk melakukan pemilahan sampah dari sumbernya.
Membagi kategori sampah menjadi empat yakni organik, B3, residu (seperti popok) dan sampah lainnya (anorganik).
Edukasi yang dilakukan Eddy agar warga mau melakukan pemilahan sampah dari rumah tidak melalui forum formal dengan mengumpulkan banyak orang.
Tetapi melalui pendekatan interpersonal door to door ke pelanggan.
"Butuh waktu hampir tiga tahun untuk mengedukasi warga hingga 80 persen konsisten memilah. Setiap keliling, kami anggap mereka bukan sekadar pelanggan, melainkan Sahabat Omah Limbah. Hubungannya cair, bahkan saya sering diajak ngobrol hingga ditawari makan dan minum," jelas Eddy.
Hasilnya dirasakan kini, tingkat keberhasilan pemilahan dan pengolahan sampah di Omah Limbah mencapai kisaran 85 persen.
Sisanya yang berupa residu baru dikirim ke TPA Troketon.
Untuk sampah khusus limbah aluminium foil bahkan dikerjasamakan dengan para ibu PKK Desa Pondok. Guna diolah menjadi kerajinan tangan seperti tas pesta, topi hingga vas bunga.
Produknya kini juga dititipkan di Omah Limbah untuk ditawarkan ke pembeli maupun diikutkan dalam pameran.
Sementara itu, untuk olahan sampah organik, seluruh sisa makanan diolah menjadi bubur atau difermentasi dalam drum kedap udara.
Nantinya dijadikan pakan bagi maggot. Langkah tersebut terbukti ampuh menekan polusi bau di lingkungan TPS3R sendiri.
Selain menghasilkan maggot dan pupuk organik, Omah Limbah juga mengolah mi reject dan biskuit afkir.
Oleh Eddy diolah menjadi pakan ternak kering yang bernilai ekonomis. Bahkan hampir seluruh peternak di Desa Gempol menggunakan pakan ternak tersebut.
Sementara itu, untuk biaya retribusi yang ditarik dari 250 rumah pelanggan bertahan di angka Rp15 ribu per bulan.
Baca Juga: Unik! Pengendara dan Warga Gelar Upacara Bendera di Tengah Jalan Solo-Jogja Klaten Selatan
Angka yang secara matematis jauh dari kata menguntungkan jika dibanding dengan biaya operasional.
Seperti untuk pembelian trash bag, BBM untuk armada roda tiga hingga operasional pengiriman residu ke TPA Troketon.
Seperti diketahui, operasional sehari-hari Omah Limbah dijalankan secara berdikari oleh Eddy. Dibantu istrinya bersama karyawan lainnya.
Bahkan ketika waktu luang juga dibantu anak-anaknya untuk mengambil sampah warga secara berkeliling.
"Kalau dihitung pakai rumus bisnis, ya tombok duit, tombok tenaga, kadang tombok perasaan. Tapi ini bentuk kepatuhan dan janji saya. Tapi hidup saya sudah terasa cukup, anak saya bisa lulus sarjana dan diterima bekerja tanpa keluar uang sepeser pun. Bagi saya, itu pertolongan Tuhan," tutur Eddy haru.
Ke depan, Eddy hendak menyiapkan Omah Limbah untuk mewujudkan pengelolaan sampah semakin terintegrasi.
Mampu menyelesaikan sampah di tingkat desa sehingga residu yang dikirim ke TPA semakin sedikit.
Dari pengabdian Eddy terhadap pengelolaan sampah yang dilakukan telah membuahkan sejumlah penghargaan.
Yakni Apresiasi Pengelolaan Sampah dengan Budidaya Maggot dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Klaten 2022
Selain itu, juga meraih peringkat 3 TPS3R Terbaik dari Pemkab Klaten dalam Klaten Innovation Award 2024. (ren)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com