Tanam Serentak Padi Rojolele Seluas 5 Hektare, Langkah MPM Muhammadiyah Diapresiasi Pemkab Klaten

Angga Purenda • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 15:39 WIB
Jajaran PP Muhammadiyah saat melakukan Kick Off Rojolele Reborn melalui penanaman serentak di Desa Gempol, Kecamatan Karanganom, Klaten, Kamis (20/8/2026). (Angga Purenda/Radar Solo)
Jajaran PP Muhammadiyah saat melakukan Kick Off Rojolele Reborn melalui penanaman serentak di Desa Gempol, Kecamatan Karanganom, Klaten, Kamis (20/8/2026). (Angga Purenda/Radar Solo)

RADARSOLO.COM-Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah resmi meluncurkan gerakan Kick Off Rojolele Reborn.

Melalui aksi tanam raya padi varietas Rojolele-104 di Desa Gempol, Karanganom, Klaten, Kamis (20/8/2026).

Agenda tersebut menjadi langkah awal penguatan kedaulatan pangan berbasis komoditas lokal.

Sekaligus menggerakkan ekosistem p mberdayaan petani melalui jaringan Jemaah Tani Muhammadiyah (Jatam).

Baca Juga: Pabrik Tahu di Ngemplak Boyolali Terbakar Lagi, Damkar Imbau Masyarakat Rutin Cek Instalasi Listrik

Penanaman perdana varietas Rojolele-104 ini menyasar target lahan seluas 5 hektar di Klaten.

Diantaranya tersebar di tiga wilayah sentra produksi yakni Desa Gempol, Kecamatan Karanganom seluas 8.000 meter persegi, Kecamatan Ceper seluas 5.500 meter persegi dan Kecamatan Prambanan seluas 3.000 meter persegi.

Ketua MPM PP Muhammadiyah M. Nurul Yamin menjelaskan, gerakan tersebut merupakan upaya penguatan kembali varietas padi asal Klaten.

Varietas Rojolele hasil pemulian yang bekerja sama dengan BATAN telah diresmikan oleh Pemerintah Kabupaten Klaten pada 2013.

Muhammadiyah pun mulai ambil bagian dalam pengembangannya sejak 2017.

Baca Juga: Inklusif Bagi Disabilitas, Job Fair Hari Jadi ke-81 Jateng Sediakan 4.817 Lowongan Kerja

"Hari ini kita hadir di kick off tanam raya padi sawah varietas Rojolele-104 sebagai langkah awal untuk pemberdayaan masyarakat di bidang pertanian. Khususnya pangan dan lebih khusus lagi padi," ujar Nurul saat ditemui di lokasi penanaman.

Melalui program tersebut, MPM PP Muhammadiyah hendak membangun ekosistem pertanian dari hulu ke hilir.

Mulai dari pembenihan, penanaman hingga tata kelola pengolahan dan distribusi pasar yang terhubung langsung dengan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) serta masyarakat luas.

"Rojolele adalah varietas melegenda dan Klaten merupakan ikon produk beras tersebut. Kami ingin terus mengembangkan inovasi ini agar menjadi varietas unggulan yang digemari masyarakat,” ucapnya.

Baca Juga: Astra Motor Jawa Tengah Hadir untuk Posyandu, Beri Bantuan Sarana dan Luncurkan Program 6 SPM

Melalui ekosistem tersebut, pihaknya hendak memastikan sejak awal ditanam, distribusi produk ke pasar dan konsumennya sudah disiapkan.

Harapannya, kesejahteraan petani meningkat dan model pemberdayaan tersebut bisa direplikasi secara nasional.

Pada tahap awal dengan target penanaman serentak di lahan seluas 5 hektar, estimasi produktivitas diperkirakan mencapai enam hingga tujuh ton gabah per hektar atau sekira  30 sampai 35 ton gabah kering secara keseluruhan.

Jumlah tersebut diproyeksikan akan menghasilkan sekira 20 hingga 25 ton beras siap konsumsi yang memiliki cita rasa khas, pulen dan bernilai ekonomis tinggi.

Dukungan penuh juga disampaikan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten melalui Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Klaten Pandu Wirabangsa.

Ia menyambut positif kolaborasi aktif MPM PP Muhammadiyah dan Jatam dalam menjaga identitas pertanian daerah.

Baca Juga: Semarakkan Hari Jadi ke-81 Jateng, Ratusan Produk UMKM Penuhi Halaman Kantor Gubernur di Semarang

"Tentu sangat senang karena Rojolele ini adalah beras identitas Klaten yang punya kelas tersendiri di masyarakat," terang Pandu. 

"Kehadiran Jatam melalui MPM PP Muhammadiyah memberikan dukungan luar biasa dalam menyemai varietas ini di kawasan kantong produksi. Seperti Karanganom, Polanharjo, Delanggu, Juwiring hingga Wonosari," imbuhnya.

Pandu menilai, keberadaan ekosistem yang dibangun Muhammadiyah memperluas jangkauan pasar beras Rojolele.

Terlebih lagi sebelumnya telah diserap oleh jaringan rumah sakit hingga perguruan tinggi Muhammadiyah.

"Pasar dari beras Rojolele ini sebenarnya selalu ada. Kuncinya ada pada kepastian yang menanam dan penanganan yang tepat. Ketika Jatam hadir merangkul seluruh elemen, petani mendapatkan jaminan dan kepastian. Ujung dari semua gerakan ini adalah pemberdayaan petani," pungkasnya. (ren)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
mpm muhammadiyah varietas unggulan ekosistem pemkab klaten padi rojolele