Snack ini mungkin terdengar asing, terlebih di telinga anak muda masa kini. Maklum, menu ini tenar pada 1950-1960, termasuk salah satu dari beragam jenis kudapan lawas khas Jawa. Songgo Buwono punya makna filosofis. Berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, Songgo yang berarti menyangga, dan Buwono yang diartikan sebagai semesta.
”Di balik penampilannya yang lezat. Ada banyak makna tersembunyi di setiap kondimen Songgo Buwono. Mulai dari selada yang posisinya ada di paling bawah. Melambangkan tumbuhan yang menjaga dan menjadi sumber kehidupan di bumi. Lalu di atasnya diletakkan roti Soes, simbol dari bumi itu sendiri,” beber baker Kota Gudeg, Ersya Ruswandono kepada Jawa Pos Radar Solo.
Isian dalam roti soes juga bukan tanpa makna. Ragut sapi yang terdiri dari daging sapi dan sayuran ditafsirkan sebagai makhluk hidup, manusia dan hewan, yang bernaung di bumi. Ada telur ayam di atasnya, didefinisikan sebagai gunung yang menjaga ekosistem alam di bumi.
”Nah, sedangkan mayonaise, diibaratkan menjadi langit yang menyelimuti bumi. Acar sebagai bintang-bintang yang bertebaran,” sambungnya.
Tak kalah menarik, Ersya juga mengisahkan sejarah Songgo Buwono. Sajian ini awalnya kudapan dari Keraton Jogjakarta. Dicetuskan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VII karena kaya akan gizi dan protein. Kala itu, Songgo Buwono hanya dapat dinikmati oleh kalangan kerajaan saja. Atau kerabat keraton. Selain itu hanya disajikan di momen-momen tertentu.
”Jadi wajar, meskipun Songgo Buwono ini panganan lawas. Tapi belum banyak masyarakat yang mengetahui snack ini. Terutama orang-orang di luar lingkup Keraton. Seiring perkembangan zaman, kudapan ini pun beralih menjadi sajian umum. Semua orang bisa menikmatinya,” ujarnya.
Ersya menambahkan ragam kuliner dari Ndalem Beteng memang banyak terpengaruh oleh masakan Eropa karena imbas kolonialisme di Indonesia. Maka Songgo Buwono pun tercipta hasil dari adaptasi menu barat, Burger dan Egg Benedict. Kemudian dilokalkan sesuai dengan cita rasa Jogjakarta yang cenderung manis dan komoditas pangan yang ada di Indonesia.
”Sekarang Songgo Buwono biasa dihidangkan sebagai teman minum teh atau minum kopi,” katanya.
Proses pembuatan Songgo Buwono ada tiga tahap. Pertama, membuat roti Soes terlebih dahulu. Kemudian membuat isian untuk Roti soes, seperti merebus telur ayam dan membuat ragut sapi. Ersya menyebut untuk pembuatan ragut dapat dimodifikasi dengan bahan lain sesuai selera. Termasuk membuatnya menjadi ragut vegan, mengganti daging dengan jamur.
”Terakhir, membuat pelengkapnya yakni acar dan mayonaise. Untuk mayonaise, sebenarnya bebas pengen membuat homemade dari scratch. Untuk mendapatkan rasa yang otentik. Atau bisa juga menggunakan mayonaise cepat saji yang banyak ditemukan di supermarket,” bebernya.
Untuk menghasilkan Songgo Buwono yang sempurna, Ersya membuat patokan rasa dan tekstur. Roti Soes, garing di luar dan moist di dalam dengan rasanya yang gurih. Ragut sapi, juicy dari daging harus terasa, rasanya cenderung manis dan gurih. Mayonaise, kekentalannya sedang, terasa manis, asam, dan creamy. Acar timur, tetap memiliki rasa manis dan asam dari cuka yang cukup kuat. (aya/adi/dam)
BAHAN PEMBUATAN
ROTI SOES
Tepung terigu
Maizena
Telur
Margarin
Susu Cair
Garam
RAGUT
Protein hewani
Sayur Mayur
Margarin
Bawang bombai
Bawang putih
Tepung terigu
Susu cair
Gula
Garam
Lada
SAUS
Telur
Saus mustard
Margarin
Tepung terigu
Gula
Garam
PELENGKAP
Acar mentah (timun, cabai rawit)
Daun selada Editor : Damianus Bram