Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Gurihnya Getuk Makin Diminati, Cemilan Desa Yang Mendunia

Damianus Bram • Sabtu, 18 Desember 2021 | 16:15 WIB
YUMMY: Makanan getuk yang sudah cukup akrab di lidah orang Indonesia, khususnya masyarakat di pulau Jawa. (RUDI HARTONO/RADAR SOLO)
YUMMY: Makanan getuk yang sudah cukup akrab di lidah orang Indonesia, khususnya masyarakat di pulau Jawa. (RUDI HARTONO/RADAR SOLO)
RADARSOLO.ID - Makanan penutup biasanya seperti tak terpisahkan dalam menu yang bisa disantap usai memakan makanan utama. Makanan penutup biasanya dipilih yang berasa manis atau gurih. Mulai dari kacang-kacangan, kue, atau malah buah-buahan. Atau ada juga yang memakan getuk sebagai cemilan penutup.

Di beberapa wilayah di dunia, seperti di sebagian besar wilayah Afrika tengah dan barat, serta sebagian wilayah Tiongkok, tidak ada tradisi penyajian makanan penutup di akhir santapan. Istilah makanan penutup dapat digunakan untuk mendeskripsikan makanan manis seperti kue, kue tar, kue kering, agar-agar, pastry, es krim, pai, puding, puding susu, dan sup manis. Dan di Indonesia terkadang hal tersebut menjadi sebuah kewajiban.

Di Karanganyar, pasangan suami istri Edy Susanto dan Tri Suharsi, warga Ngunut, Tawangmangu, Karanganyar melihat potensi dari getuk untuk jadi idola untuk makanan penutup. Keduanya mengembangkan makanan berbahan dasar singkong tersebut, untuk dijadikan getuk dengan nama produk Gethuk Take. “Getuk jadi makanan cemilan yang memang pas untuk jadi makanan penutup,” terang Edy.

Menurut Edy yang dikenal dengan sapaan Edi Blangkon, pihaknya sengaja membuat makanan getuk agar bisa lebih dikenal publik. Selama ini makanan ringan tersebut lebih dikenal hanya sebagai makanan khas desa. Ditangannya, getuk dikreasikan agar memiliki cita rasa yang berbeda dari produk sejenis yang ada di pasaran. Kebanyakan getuk memang terasa manis atau gurih, namun Gethuk Take memiliki cita berbeda, karena ada berbagai varian rasa seperti original, jahe, gula merah, nangka, durian dan keju.

Pangsa pasar penjualan produknya ini tetap akan merujuk ke pasar tradisional. Untuk bisa lebih mengedepankan cita rasa singkong khas pedesaan, proses pengukusan singkong masih menggunakan kayu bakar. Begitu pula proses penumbukan masih secara manual. Ini agar cita rasa singkongnya tak berubah sedikitpun.

Penyebaran makanan getuk memang lebih banyak muncul di Jawa bagian tengah ataupun timur. Dan orang Jawa cukup senang dengan cita rasa getuk. Walau begitu ternyata pemasaran getuh hingga keluar negeri juga ternyata mulai dilirik saat ini, bahkan Edy mengakui produknya sudah terjual hingga sampai ke Hongkong.

“Rata-rata produk yang kami buat dan kita kirim ke luar negeri itu justru menjadi salah satu menu dari hotel-hotel berbintang. Penyajian sederhana, dengan ditemani secangkir kopi atau teh. Tentu lezat sekali untuk menghabiskan waktu dengan cukup santai,” paparnya. (rud/nik/dam) Editor : Damianus Bram
#Makanan Tradisional Getuk #Getuk #Makanan Khas Jawa Getuk #Cemilan Desa Yang Mendunia