Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Getuk Khas Desa Kurung, Kecamatan Ceper, Klaten: Dari Rasa Coklat hingga Selai Nanas

Damianus Bram • Sabtu, 29 Oktober 2022 | 16:00 WIB
KUDAPAN ENAK: Sajian getuk khas Desa Kurung, Ceper, Klaten dengan parutan kelapa dan gula pasir halus di atasnya. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
KUDAPAN ENAK: Sajian getuk khas Desa Kurung, Ceper, Klaten dengan parutan kelapa dan gula pasir halus di atasnya. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)
KLATEN - Tak lengkap rasanya jika berkunjung ke Klaten tanpa membawa pulang oleh-oleh. Getuk khas Desa Kurung, Kecamatan Ceper bisa menjadi pilihan. Rasanya yang manis bakal memanjakan lidah siapa pun yang menikmatinya.

Berbicara tentang kudapan ini tak bisa dilepaskan dari sosok Sujiyem yang merintis sejak 1976 dengan nama Getuk Yoko. Lokasinya persis di tepi Jalan Raya Karangwuni-Pedan, Desa Kurung, Ceper. Terlebih lagi kuliner yang terbuat dari singkong itu sudah eksis selama 46 tahun lamanya.

Oleh Sujiyem, awalnya getuk dijajakan dengan keliling kampung menggunakan gerobak selama setahun di era 1970-an. Hingga akhirnya memilih menetap di tepi jalan tersebut. Getuk itu lantas diberi nama yang diambil dari anaknya yakni Sarjiyoko atau Yoko (pelafalan Bahas Jawa).

Keterampilan Sujiyem dalam membuat getuk berbekal ilmu ketika mengikuti saudaranya ke Magelang. Seperti diketahui daerah tersebut dikenal sebagai Kota Getuk di Jawa Tengah. Lantas berinovasi untuk memproduksi getuknya secara mandiri.

Produksi getuk dilakukan di rumah yang berlokasi di Dusun Putatan, Desa Kurung, Ceper mulai pukul 00.00. Setiap harinya dapur produksi getuk itu mengolah sekitar 2 kuintal singkong. Sedangkan saat musim Lebaran, untuk jumlah singkong yang diproduksi mencapai dua kali lipat atau sekitar 2 kuintal.

Getuk Yoko yang mengawali berkembangnya kudapan khas Desa Kurung itu sudah berjualan di rumah produksi sejak pukul 07.00. Sedangkan di tepi Jalan Raya Karangwuni-Pedan mulai pukul 09.00-16.30 setiap harinya.

Getuk disajikan dengan varian rasa seperti cokelat dan selai nanas dengan bentuk persegi maupun lonjong. Ada pun favorit para pembeli getuk khas Desa Kurung itu adalah varian cokelat. Apalagi cita rasanya yang manis serta teksturnya begitu lembut membuat para pelanggan bakal ketagihan.

Getuk diproduksi menggunakan bahan alami dan dipastikan tanpa bahan pengawet. Termasuk dalam pembuatan selai nanasnya. Setidaknya bisa tahan selama dua hari di suhu ruang. Sedangkan jika dimasukan dalam kulkas bisa bertahan selama satu minggu lamanya.

”Kalau dimasukan dalam kulkas memang bisa bertahan lebih lama. Tapi nanti tekstur dari getuk menjadi lebih keras. Ini berlaku kecuali untuk parutan kelapanya ya, soalnya pasti basi,” ucap salah seorang penjual getuk, Ninuk, 43.

Getuk khas Desa Kurung biasa disajikan bersama parutan kelapa serta gula pasir yang begitu halus. Cara menyantapnya bisa dengan mencocol maupun menaburnya langsung di atasnya. Hal itu sesuai dengan selera masing-masing.

Getuk yang berkembang di Desa Kurung ini menjadi salah satu oleh-oleh yang banyak diburu pemudik maupun wisatawan. Mengingat harganya yang cukup terjangkau yakni Rp 1.000 per bijinya. Pembeli pun bisa membeli dalam paket mulai dari harga Rp 10.000-Rp 20.000 dengan isi getuk coklat hingga selai nanas.

”Paling jauh getuknya pernah dibawa sampai ke Batam, tetapi menggunakan transportasi pesawat ya. Jadi perjalanannya hanya beberapa jam saja. Pokoknya hanya tahan dua hari saja di suhu ruang,” ucap Ninuk.

Ninuk menambahkan, kini yang berjualan getuk di Desa Kurung tidak hanya dirintis oleh Sujiyem. Tapi beberapa warga ada yang memproduksi serupa. Meski begitu, cita rasa dari Getuk Yoko sendiri tidak berubah dari sejak awal berjualan. (ren/adi) Editor : Damianus Bram
#Makanan Tradisional Getuk #Getuk Yoko #Getuk Khas Desa Kurung #Getuk #Makanan Khas Jawa Getuk