RADARSOLO.COM - Ada banyak pilihan menu sarapan di Kabupaten Klaten yang menggugah selera. Salah satunya nasi tumpang berkuah khas Pasar Pedan.
Sepiring nasi tumpang berisi aneka sayuran seperti daun papaya, tauge hingga kemangi dicampur dengan kelapa parut. Lalu di atasnya disiram kuah tumpang berisikan tahu, tempe serta rambak hingga membuat menu itu lebih basah. Sama-sama tumpang, namun kuah tumpang yang ada di Kota Klaten ini berbeda. Sebab, kuah yang disiramkan hanya sekadar untuk membasahi menu tersebut.
Warung nasi tumpang di Kampung Sewu, Desa Keden, Kecamatan Pedan ini dikelola oleh Sriyanti, 50. Lokasinya masih dalam kawasan Pasar Pedan yang sudah eksis selama 35 tahun. Dia dibantu sembilan orang dalam melayani para pelanggan mulai pukul 06.00 WIB hingga pukul 00.00 WIB.
Sriyanti merupakan generasi kedua yang melanjutkan usaha warung dari ibunya bernama Sumirah. Dia mengelola warung nasi tumpang itu sejak lulus SMP hingga saat ini. Sebelumnya, warung itu buka dari pukul 20.00 hingga pukul 02.00. Namun karena pandemi Covid-19, jam buka berubah dari pagi hingga pukul 20.00.
”Memang yang berjualan nasi tumpang di Pedan banyak. Tapi yang pertama kali jualan, khususnya di Kampung Sewu, ya kami. Kalau soal rasa ya selera, kami serahkan ke pelanggan,” ucap Sriyanti.
Menikmati sajian nasi tumpang dengan cita rasa gurih itu cocok ditemani aneka lauk-pauk yang lengkap. Mulai dari gorengan tempe, ayam goreng hingga telur bacem yang tersedia di atas meja. Seporsi nasi tumpang khas Pasar Pedan dibanderol dengan harga Rp 10 ribu, sudah termasuk minum. Sedangkan untuk harga lauknya sendiri mulai dari Rp 1.000.
Rata-rata dalam sehari Sriyanti bisa mengolah beras 0,5 kuintal. Warung tersebut memiliki pelanggan dari berbagai daerah sekitar Klaten. Salah satunya Bupati Klaten Sri Mulyani.
”Kalau bu bupati memang sering memesan nasi tumpang di sini,” ucapnya.
Sementara itu, salah seorang pelanggan setia, Daroji, 53, mengaku sudah menjadi pelanggan nasi tumpang di warung yang berada di kawasan Pasar Pedan itu sejak 1992. Setiap kali datang pasti memesan nasi tumpang, meski sebenarnya ada menu lainnya seperti pecel, ayam penyet, sego wiwit dan terancam.
”Kalau saya biasanya datang itu saat malam. Rasanya tetap nikmat sejak dulu hingga sekarang. Tidak pernah berubah. Apalagi lauknya juga komplit,” ucap Daroji, warga Desa Ceper, Kecamatan Ceper ini.
Daroji mengaku, sajian nasi tumpang yang dihidangkan sangat cocok dengan lidahnya. Hal itu membuat dirinya datang ke warung nasi tumpang di Pedan tersebut. (ren/adi/ria)
Editor : Syahaamah Fikria