RADARSOLO.COM - Sudah sampai di Kabupaten Sukoharjo, tak lengkap rasanya jika belum menyantap sego gembul. Kuliner ini asli inovasi putra daerah Sukoharjo. Bahkan kuliner ini sudah dipatenkan dengan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).
Sego gembul menjadi langganan para bupati, pejabat dan pernah menjadi menu utama para delegasi negara-negara anggota G20, tahun lalu. Sego gembul ini merupakan simbol dari Sukoharjo Makmur. Sebab, ada banyak potensi kuliner khas Sukoharjo yang terangkum dan tersaji dalam satu sajian menu tersebut.
Sego gembul terdiri dari tiga macam nasi, yakni tiwul, gatot dan nasi merah. Disajikan bersama aneka sayur seperti oseng daun pepaya, oseng pare, oseng tempe, urap dan botok. Untuk lauknya bandeng utuh dan sepotong tempe atau tahu goreng.
Tak lupa, ada sambal bawang dengan toping gereh layur lengkap dengan lalapan sayur mentah. Seluruh makanan ini disajikan di atas tambir dengan alas daun jati yang menambah kentalnya suasana desa.
”Cara makannya dicampur semua nasinya,” kata Sari Mawarni, pencipta inovasi sego gembul.
Nah, bagi yang ingin menikmati lezatnya sego gembul, cukup datang ke Omah Tiwul Bunga Ayu di Dusun Ngrawan, Desa Ngreco, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo.
Namun jangan sampai kesiangan. Karena sego gembul menjadi menu paling favorit pelanggan. Baik dari masyarakat, para pejabat hingga bupati Sukoharjo pun sering menikmati makanan rendah gula ini.
”Pak Bupati Wardoyo Wijaya sering, Ibu Bupati Etik Suryani juga sering. Biasanya kalau ke sini menikmati sego gembul ini. Banyak juga wisatawan-wisatawan dari berbagai kota yang singgah,” katanya.
Sari Mawarni mengaku, mendapatkan bahan baku sego gembul dari para tetangga. Dia juga sengaja mengajak para tangganya untuk berwirausaha bersamanya, karena melihat besarnya potensi yang ada di desanya.
”Bahan baku dari para tetangga, saya ajak semua. Demi Sukoharjo Makmur,” katanya.
Benar saja, saat dicicipi, tiga jenis nasi yang sudah dicampur terasa gurih dan ada sedikit manis di ujung lidah. Ditambah aneka oseng-oseng menjadikan kaya rasa. Plus pedasnya sambal bawang dengan asinnya gereh layur sangat menggugah selera.
”Saya tidak menggunakan MSG (penyedap rasa, Red). Saya berupaya menyajikan makanan khas pedesaan zaman dulu,” katanya.
Untuk menghadirkan kesan jadul alias zaman dulu, Sari Mawarni menyiapkan beberapa kostum pakaian adat Jawa dan juga beberapa alat masak tradisional. Diharapkan para pembeli bisa datang tidak hanya untuk makan, namun juga mengabadikan momen. Bahkan, becak milik bapaknya pun turut dipajang untuk memperkuat suasana pedesaan.
”Sekarang wisata kuliner tidak hanya untuk menghibur lidah, namun juga mata. Maka dari itu, kami menyajikan kostum agar kegiatan mereka bisa diabadikan dengan apik. Semacam nostalgia,” tandas Bunga. (kwl/adi/ria)
Editor : Syahaamah Fikria