RADARSOLO.COM - Mi pentil, makanan tradisional yang masih banyak bisa dijumpai di Wonogiri. Mi ini juga punya banyak nama. Apa saja?
Tak sulit menemukan mi pentil di Kota Sukses. Makanan tradisional itu bisa didapatkan di Pasar Kota Wonogiri. Salah satu yang menjajakan mi pentil adalah Tumi.
Wanita 70 tahun ini sudah lama menjajakan mi pentil di sana. Saat dikunjungi Radarsolo.com, Kamis (23/11), lokasi berdagangnya di sekitar taman yang ada di tengah pasar.
”Selama 10 tahun sudah ada saya jualan ini,” kata dia.
Menurut Tumi, bahan dasar mi pentil adalah pati kanji. Pembuatannya tergolong mudah. Pati kanji diuleni dengan menggunakan air panas. Setelah itu, adonan ditunggu beberapa saat. Setelah itu adonan diratakan.
”Setelah itu digulung seperti menggulung klasa (tikar), dan kemudian dirajang. Warna kuningnya dari kunir,” imbuh Tumi.
Tumi menuturkan, mi pentil memiliki banyak nama. Mulai dari mi klolor, mi geol, mi pethel hingga mi glondong.
Namun, menurut dia, nama aslinya adalah mi tiwul karena tepung yang digunakan sama.
Adapun nama pentil sendiri karena bentuknya mirip karet pentil di ban dalam sepeda motor. Baik ukuran dan warnanya sama-sama kuning.
”Kan bahannya sama, kanji tiwul itu. Tapi memang sebutannya orang-orang beda-beda,” kata dia.
Nah, menyantap mi pentil ini kurang rasanya jika belum ditambahi pecel. Di atas mi, sayuran pecel ditumpuk. Dan setelah itu, diguyur sambal kacang.
Baca Juga: Kuliner Legendaris Mi Kopyok Bu Narti Klaten, Minus Lontong, Bertahan Sejak 1970
”Tapi ada juga yang cuma beli mi-nya saja. Ya ndak papa. Biasanya ramai saat hari Sabtu dan Minggu. Banyak juga yang naik Trans Jateng (turun di Terminal Tipe C Wonogiri) kemudian jajan di sini,” kata dia.
Untuk menikmati mi pentil bikinan Tumi, tak perlu merogoh kocek dalam. Cukup dengan uang Rp 3.000, sudah bisa membawa pulang mi pentil lengkap dengan pecel.
Jika akhir pekan, dagangan yang dibawa Tumi lebih banyak. Ada bongko, gendar hingga tiwul dan bothok. Semuanya jajanan tradisional.
Meski begitu, saat hari biasa juga bisa ditemukan legondo hingga lentho.
”Yang utama tetap mi pentil. Paling utama ya ini, banyak yang cari,” kata dia. (rud/adi/ria)
Editor : Syahaamah Fikria