RADARSOLO.COM - Sebuah warung soto sederhana telah berdiri di tepi Jalan Solo-Jogja, Desa Klepu, Kecamatan Ceper, Klaten.
Namanya Soto Gunting yang menempati bangunan rumah tua. Warung soto itu memiliki keunikan tersendiri dalam penyajiannya.
Masuk ke warung soto tersebut langsung disambut Mutik, 43, selaku pengelola Soto Gunting.
Kemudian langsung disajikan seporsi Soto Gunting dengan komposisi nasi putih, kecambah, daun seledri, bawang goreng dan irisan daging jeroan sapi serta kuah kaldu sapi yang begitu kuat.
Menu di warung Soto Gunting itu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan warung soto daging sapi lainnya di Klaten.
Tapi yang membedakan dengan warung soto lainnya pada meja pelanggan. Terdapat piring yang berisikan daging dan jeroan sapi yang sebelumnya sudah diolah bumbu kecap.
Menariknya, pada setiap piring yang berisikan daging dan jeroan sapi itu terdapat satu gunting dan garpu stainless.
Keberadaan gunting dan garpu itu berfungsi untuk mengambil dan memotong olahan paru hingga babat itu.
Pelanggan pun bebas memilih dan memotong sendiri untuk dijadikan lauk dalam seporsi soto.
Meski pada semangkuk soto sudah terdapat irisan daging sapi maupun jeroan, tetapi pelanggan bisa menambahkan beberapa potongan sendiri.
Memang jadi primadona pembeli yang datang ke warung soto tersebut. Meski tersedia lauk lainnya seperti tempe, tahu maupun kerupuk.
”Untuk gunting itu sudah ada sejak simbah. Tapi dulunya diguntingkan oleh simbah. Tapi sekarang memang sudah disediakan gunting di setiap piring, sehingga pelanggan bisa menggunting sendiri,” ujar Mutik saat ditemui Jawa Pos Radar Solo, Jumat (24/1).
Mutik mengungkapkan, Warung Soto Gunting sudah eksis puluhan tahun. Pertama kali yang berjualan adalah neneknya bernama Tukiyem di lokasi yang sama.
Kemudian diteruskan oleh ayahnya yakni Suradi hingga sampai saat ini yang dibantu olehnya juga.
Mutik sendiri sudah ikut neneknya berjualan soto sejak usia 8 tahun hingga sampai saat ini.
Mulai pukul 03.00, dirinya sudah menyiapkan untuk meracik soto bagi pelanggannya dengan dibantu kerabat dan karyawan lainnya.
Mengingat warung Soto Gunting sudah buka sejak pukul 04.30-19.00. Dalam sehari bisa melayani hingga 200 porsi soto.
”Untuk potongan jeroan yang bisa dipilih dan digunting sendiri oleh pelanggan yakni limpa, kikil, paru, babat, iso dan daging. Jadi bisa memilih sesuai selera. Untuk harganya setiap potongan yakni Rp 5.000,” ujar Mutik.
Ada pun seporsi harga Soto Gunting dibandrol dengan harga Rp 8.000. Sedangkan lauknya untuk gorengan sekira Rp 1.000.
Setalah olahan daging dan jeroan sapi, untuk lauk yang paling diburu pelanggan adalah tempe goreng.
Pelanggan tak hanya datang dari Klaten tetapi juga Solo dan Yogyakarta yang kebetulan melintasi jalan nasional.
Terutama didominasi oleh pengemudi truk yang beristirahat sambil menikmati seporsi soto. Bahkan seniman seperti Whawin Lawra pernah singgah ke warung Soto Gunting.
”Kedepannya, ada pandangan untuk bisa dikembangkan kalau semuanya sudah siap. Biar Soto Gunting bisa terus eksis,” ujar Mutik. (ren/adi)
Editor : Damianus Bram