RADARSOLO.COM - Soto Mbah Darmo bisa menjadi kuliner yang wajib saat berkunjung di Klaten.
Soto ayam yang berada di Desa Wanglu, Kecamatan Trucuk ini memang legendaris karena sudah eksis sejak 1950-an.
Soto Mbah Darmo disajikan dalam piring dengan komposisi berupa nasi, mi soun, kubis, suwiran ayam dan bawang goreng. Ditambah dengan kuah yang berasal dari kaldu ayam.
Tetapi, menariknya, disini pelanggan bisa memesan tanpa kuah atau yang biasa disebut dengan soto kering (toring).
Tak hanya itu saja, disini juga ada lauk-pauk yang khas untuk disantap bersama seporsi soto yakni tempe benguk.
Tempe yang terbuat dari biji koro yang difermentasi itu telah dimasak bacem. Ada juga yang disajikan dalam bentuk goreng tepung, sehingga pelanggan bisa memilih sesuai selera.
”Jadi soto ini dirintis oleh Mbah Darmo di lokasi yang sama, tetapi dulu warungnya cuma gubuk. Lalu diteruskan oleh orang tua saya, kemudian saya sampai saat ini. Sejak dari dulu memang disajikan di piring,” ujar pengelola Soto Mbah Darmo generasi ketiga, Suwardi, 58, saat ditemui Jawa Pos Radar Solo, Jumat (31/1/2025).
Suwardi menjelaskan, selain soto, juga ada nasi rames. Menu itu juga sudah ada sejak awal warung soto berdiri hingga saat ini. Tetapi soto ayam tetap jadi pilihan utama untuk disantap.
Suwardi mengungkapkan, yang dipertahankan tidak hanya cita rasa hingga penggunaan piring saja. Tetapi juga lauk-pauk yang sejak awal hingga saat ini masih ada yakni tempe benguk.
”Kalau dulunya juga disajikan ketela, timus, gabluk dan tempe gembus. Tetapi sekarang yang masih ada tinggal tempe benguk saja. Memang jadi favorit pelanggan setiap kali datang ke Warung Soto Mbah Darmo,” ujar Suwardi.
Suwardi sudah menyiapkan racikan soto yang hendak disajikan ke pelanggannya malam satu hari sebelumnya.
Sedangkan pada Subuh hanya tinggal memanasi racikan dengan menggunakan kayu bakar. Dalam menyiapkan itu semua, dia dibantu dengan tujuh karyawannya.
Warung Soto Mbah Darmo bisa melayani hingga 200 porsi. Mulai dari Pukul 06.00 hingga menjelang Maghrib. Untuk menikmati soto ayam itu harus merogoh kocek Rp 7.000 per porsi.
”Kalau untuk lauk tempe benguk sendiri harganya Rp 2.000 untuk per bijinya. Bahannya dipasok dari Kecamatan Bayat. Sudah kami masak bacem satu hari sebelumnya lalu kami goreng. Cita rasanya sendiri gurih dan manis,” ujar Suwardi.
Pelanggan Soto Mbah Darmo dan tempe benguk tidak hanya datang dari wilayah Klaten saja.
Tetapi dari Sukoharjo, Boyolali hingga Kota Solo. Bahkan ada pelanggan yang datang secara khusus untuk membeli tempe benguk untuk dijadikan oleh-oleh.
”Sudah sering untuk mengirim tempe benguk ke Jakarta juga. Pernah dua kali dikirim ke Inggris atau Australia. Kebetulan warga Klaten yang kerja ke sana, makanya dibawa ke sana,” ujar Suwardi. (ren/adi)
Editor : Damianus Bram