RADARSOLO.COM – Solo dan Yogyakarta sama-sama dikenal sebagai pusat kuliner Jawa dengan hidangan khas bernama gudeg.
Meski menggunakan bahan dasar yang sama, yakni nangka muda dan santan, gudeg dari dua kota ini ternyata memiliki perbedaan yang cukup mencolok.
Perbedaan tersebut bukan sekadar soal selera, melainkan juga mencerminkan karakter kuliner dari masing-masing daerah.
Dilansir dari Good News From Indonesia, berikut empat perbedaan utama antara Gudeg Solo dan Gudeg Jogja:
Baca Juga: Kuliner Solo Paling Ikonik: 4 Gudeg Legendaris, Salah Satunya Jadi Favorit Presiden Jokowi
1. Warna dan Tampilan
-
Gudeg Jogja: Berwarna cokelat tua kemerahan yang pekat karena dimasak dengan daun jati dan gula merah dalam jumlah banyak.
-
Gudeg Solo: Tampak lebih terang, cenderung pucat bahkan agak keputihan karena tidak menggunakan daun jati.
2. Tekstur dan Kuah
-
Gudeg Jogja: Umumnya dikenal sebagai gudeg kering. Teksturnya padat dan nyaris tanpa kuah karena dimasak dalam waktu lama hingga air habis.
-
Gudeg Solo: Disebut juga gudeg basah atau nyemek. Disajikan dengan kuah santan kental yang melimpah sehingga terasa lebih lembut.
3. Cita Rasa
-
Gudeg Jogja: Dominan manis dengan gula jawa, biasanya disajikan bersama sambal krecek pedas sebagai penyeimbang.
-
Gudeg Solo: Rasa lebih gurih dan seimbang. Manisnya ringan, berpadu dengan gurih-asin dari kuah santan. Cocok untuk yang kurang suka rasa manis berlebihan.
4. Lauk Pelengkap
-
Gudeg Jogja: Biasanya ditemani telur pindang, tahu atau tempe bacem, ayam, serta sambal krecek.
-
Gudeg Solo: Lebih variatif, bisa ditambah ceker, daun singkong, kacang tholo, hingga tetelan sapi. Bahkan sering disajikan bersama bubur nasi lembut atau bubur lemu.
Gudeg Jogja identik dengan cita rasa manis, kering, dan berwarna pekat, sementara Gudeg Solo lebih gurih, basah, dan nyemek.
Meski berbeda, keduanya sama-sama menggambarkan kekayaan kuliner Nusantara yang tak pernah kehilangan penggemar.(mg2/np)
Editor : Nur Pramudito