RADARSOLO.COM – Di sebuah sudut Desa Gonilan, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo tepat di belakang kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), ada aroma yang tak pernah gagal menggoda.
Bukan sekadar wangi nasi hangat, melainkan perpaduan asap arang dan daun pisang yang terbakar perlahan, seolah memanggil siapa saja yang sedang menahan lapar di akhir bulan.
Di sebuah teras rumah yang sekaligus menjadi garasi, Istiqomah, 45, setia menjaga bara dan bungkus-bungkus daun pisang yang tertata rapi.
Di sanalah lahir “Nasi Bakar Spesial Anak Kost”, menu sederhana yang justru dicintai karena kesahajaannya.
Satu porsi nasi bakar di sini hanya Rp 5 ribu. Ukurannya pas—tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil—cukup untuk mengganjal perut mahasiswa sebelum kembali ke kelas atau menyelesaikan tugas.
Ditambah segelas es teh atau teh hangat dan lauk gorengan, cukup merogoh Rp 10 ribu saja untuk menikmati makan siang yang hangat, wangi, dan memuaskan.
Begitu daun pisang dibuka, uap hangat langsung menyeruak. Butiran nasi yang pulen tampak menyatu dengan bumbu, dengan isian jamur atau teri di bagian tengahnya.
Di atasnya, sejumput kemangi segar menjadi mahkota kecil yang memberi sentuhan aroma khas—segar, sedikit pedas, dan sangat menggoda.
”Sudah lama berjualan, memanfaatkan teras rumah dan garasi. Ya sasarannya anak-anak kost, banyak rumah-rumah kost di daerah ini,” kata Istiqomah.
Rahasia kenikmatan nasi bakar ini ada pada kesederhanaan prosesnya. Nasi yang sudah dibumbui diisi lauk jamur yang dimasak gurih atau teri yang asin-gurih. Lalu diberi topping kemangi sebelum dibungkus rapat dengan daun pisang.
Setelah digulung rapi, bungkusan itu diletakkan di atas bara arang. Perlahan, panas meresap, membuat bumbu semakin menyatu dengan nasi.
Daun pisang yang mulai mengering mengeluarkan aroma smokey yang khas, tak mungkin didapat dari kompor biasa.
Setiap gigitan menghadirkan sensasi yang lengkap: gurih nasi berbumbu, renyah-asin teri atau lembutnya jamur, lalu disusul semburat wangi kemangi yang menyegarkan. Sederhana, tapi terasa istimewa.
Selain nasi bakar teri dan nasi bakar jamur, ada pula nasi bakar ayam kemangi yang tak kalah digemari. Meski di tempat lain varian nasi bakar bisa sangat beragam.
Mulai dari tongkol asap, udang, cumi asin, hingga ikan asin. Di warung kecil ini, justru pilihan yang terbatas itulah yang membuat rasanya konsisten dan selalu dirindukan.
”Tidak cuma nasi bakar, di sini juga banyak aneka penyetan, tapi yang spesial tetap nasi bakar teri, nasi bakar jamur dan ayam kemangi,” ujarnya.
Jika ditelusuri, nasi bakar sering disebut sebagai turunan dari nasi timbel. Keduanya sama-sama menggunakan nasi yang dibungkus daun pisang.
Bedanya, nasi timbel dikukus, sedangkan nasi bakar dipanggang di atas arang. Proses pembakaran inilah yang menghadirkan karakter rasa yang berbeda—lebih dalam, lebih harum, dan terasa lebih “hidup”.
Tak heran, warung ini kerap menjadi tempat singgah sebelum kuliah atau lokasi makan siang dadakan bersama teman-teman satu kos.
Menariknya, warung ini buka sejak pagi. Namun, jangan berharap bisa datang menjelang sore dan masih kebagian.
”Buka pagi, biasanya siang sudah habis, tidak sampai sore,” kata Istiqomah sambil tersenyum. (kwl/adi)
Editor : Adi Pras