BOYOLALI — Kabupaten Boyolali yang terletak di kawasan kaki Gunung Merapi dan Merbabu tidak hanya dikenal dengan pesona alamnya yang asri.
Sebagai wilayah penghasil komoditas susu dan daging sapi terbesar di Jawa Tengah, Boyolali juga menyimpan "harta karun" kuliner legendaris yang menggugah selera, salah satunya adalah Sego Tumpang Congor Mbok Semi.
Meski lokasinya tersembunyi di dalam area perkampungan, tepatnya di Desa Tanduk, Kecamatan Ampel, warung makan yang telah berdiri sejak tahun 1977 ini dilaporkan tak pernah sepi dari serbuan pengunjung.
Baca Juga: Begini Perjalanan Dimsum, dari Rumah Teh di Tiongkok hingga Jadi Jajanan Favorit di Indonesia
Untuk mencapai lokasi, para penikmat kuliner harus menyusuri jalanan pedesaan terlebih dahulu.
Perjalanan tersebut dipastikan terbayar lunas begitu mencicipi seporsi nasi dengan olahan congor atau bagian hidung dan mulut sapi yang disiram kuah kental sambal tumpang.
Rahasia kelezatan utama dari menu Sego Congor Mbok Semi ini terletak pada draf proses memasaknya yang masih mempertahankan cara sangat tradisional.
Lasih, putri dari Mbok Semi yang kini meneruskan operasional usaha tersebut, mengungkapkan bahwa ia sengaja menjaga metode masak sang ibu demi mengunci keaslian cita rasa.
Bagian congor sapi yang dikenal memiliki karakteristik serat tebal dan kaya jaringan ikat, wajib dimasak selama kurang lebih 7 jam penuh menggunakan tungku kayu bakar.
"Kunci empuknya daging congor ini terletak pada proses memasaknya yang lama, hingga 7 jam sampai benar-benar lumer,” jelas Lasih.
Baca Juga: Menikmati Gurih-Manis Opor Bebek Pincuk Khas Kranggan Klaten, Kuliner Tradisional yang Bikin Nagih
Selain durasi yang lama, nyala api dari kayu bakar harus dijaga secara konsisten, tidak boleh terlalu besar ataupun terlalu kecil.
Penggunaan kayu bakar ini memberikan aroma smoky yang khas dan menjaga tekstur daging tidak mudah hancur, namun tetap terasa lumer di mulut saat disantap.
Daya tarik lain dari warung legendaris ini adalah atmosfer suasananya.
Mengusung konsep open kitchen alami, ruangan dapur dan tempat makan berada dalam satu atap yang sama.
Konsep ini membuat pengunjung bisa merasakan langsung kehangatan suasana rumah pedesaan atau dikenal dengan istilah "makan di pawon".
Baca Juga: Gunakan Metode Manual, Perajin Wuryorejo Wonogiri Iris Satu Biji Benguk Menjadi 18 Bagian Tipis
Dalam satu porsi hidangan Sego Congor, pembeli akan disajikan nasi hangat, irisan daging congor yang melimpah, serundeng kelapa manis gurih, serta siraman kuah sambal tumpang khas Jawa.
Satu porsi kuliner tradisional ini dibanderol dengan harga Rp 25 ribu, sudah termasuk fasilitas satu gelas teh hangat.
Lasih menuturkan, dalam sehari harian ia rata-rata menghabiskan 7 hingga 8 kilogram daging congor sapi.
Jumlah pasokan bahan baku ini bisa melonjak hingga menyentuh 10-11 kilogram saat memasuki masa akhir pekan atau hari libur nasional.
Citarasa kuliner khas ini kini telah menyebar luas hingga ke luar kota.
Baca Juga: Resep Masak Rendang Daging Sapi Kurban Khas Minang, Gurih dan Kaya Rempah untuk Idul Adha
Pelanggan yang datang tercatat tidak hanya berasal dari lokal Boyolali, tetapi juga dari kota Yogyakarta, Solo, Semarang, hingga Sragen.
Wida, salah satu pelanggan setia asal luar kota, mengaku rela menempuh perjalanan jauh demi bisa menikmati sajian di warung ini.
"Rasanya enak sekali, Mas. Karena masaknya tradisional pakai tungku jadi sedap. Congornya empuk, tidak amis, dan tumpangnya itu meresap. Rasanya pas, tidak terlalu pedas dan tidak terlalu manis," ungkap Wida. (fid)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com