Cungkring, Kuliner Bogor yang Sudah Ada Sejak 1975 dan Punya Cita Rasa Khas

Annas Rohmanda Purbaningrum • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 13:13 WIB
Cungkring menjadi salah satu kuliner unik dengan memadukan berbagai bagian sapi, seperti kikil, urat, dampal, hingga congor atau bagian mulut sapi.
Cungkring menjadi salah satu kuliner unik dengan memadukan berbagai bagian sapi, seperti kikil, urat, dampal, hingga congor atau bagian mulut sapi.

RADARSOLO.COM - Bogor tidak hanya dikenal dengan suasana sejuk dan tempat wisatanya. Kota ini juga memiliki beragam kuliner tradisional yang menarik untuk dicoba, salah satunya adalah cungkring.

Kuliner satu ini cukup unik karena menggunakan berbagai bagian sapi, seperti kikil, urat, dampal, hingga congor atau bagian mulut sapi.

Cungkring biasanya disajikan bersama lontong atau buras oncom. Sajian tersebut kemudian disiram dengan bumbu kacang yang gurih dan manis.

Baca Juga: Gabin Ice Cream, Camilan Manis-Gurih yang Bikin Nagih dan Mudah Dibuat di Rumah

Sudah Ada Sejak Puluhan Tahun

Cungkring menjadi salah satu kuliner yang telah lama dikenal masyarakat Bogor. Salah satu penjual legendarisnya, Cungkring Pak Jumat, disebut telah berjualan sejak 1975.

Selama puluhan tahun, kuliner ini tetap dipertahankan dengan sajian yang sederhana. Keberadaannya juga membuat cungkring menjadi salah satu makanan yang kerap diburu wisatawan saat berkunjung ke Bogor.

Kawasan Jalan Suryakencana menjadi salah satu tempat yang dikenal sebagai lokasi untuk mencicipi kuliner tradisional tersebut.

Baca Juga: Kenapa Masakan Solo Cenderung Manis? Ternyata Ada Jejak Sejarah di Baliknya

Kenapa Namanya Cungkring?

Nama cungkring terdengar cukup unik bagi orang yang baru pertama kali mendengarnya. Istilah tersebut dikenal berkaitan dengan bagian kaki sapi yang menjadi salah satu bahan utama makanan ini.

Namun, dalam satu porsi cungkring, pembeli tidak hanya mendapatkan kikil. Ada pula potongan urat dan bagian sapi lainnya yang memiliki tekstur kenyal.

Penggunaan berbagai bagian sapi tersebut menjadi salah satu ciri khas cungkring. Makanan ini juga menunjukkan kreativitas masyarakat dalam mengolah bahan makanan sederhana menjadi hidangan yang memiliki nilai jual.

Perpaduan Tekstur Jadi Daya Tarik

Salah satu hal yang membuat cungkring menarik adalah teksturnya. Kikil dan urat sapi memberikan sensasi kenyal ketika dikunyah.

Tekstur tersebut kemudian berpadu dengan lontong yang lembut. Di atasnya, terdapat remukan keripik tempe atau rempeyek yang memberikan sensasi renyah.

Baca Juga: Minuman Rasa Asin Kok Malah Digemari? Sea Salt Series Jadi Jawabannya

Cita rasanya semakin lengkap dengan bumbu kacang, kecap manis, perasan jeruk nipis, serta sambal. Perpaduan gurih, manis, pedas, dan sedikit asam membuat rasanya semakin khas.

Harganya Masih Ramah di Kantong

Meski sudah dikenal sebagai kuliner legendaris, cungkring masih tergolong makanan yang terjangkau. Harga seporsi biasanya berada di kisaran Rp15.000 hingga Rp25.000.

Beberapa penjual juga menyediakan porsi lebih besar dengan isian kikil dan urat yang lebih banyak. Harganya dapat mencapai puluhan ribu rupiah, tergantung ukuran dan pilihan porsinya.

Bukan Sekadar Kuliner

Keberadaan cungkring selama puluhan tahun membuat makanan ini tidak sekadar menjadi santapan. Cungkring juga menjadi bagian dari kekayaan kuliner tradisional Bogor yang terus bertahan di tengah munculnya berbagai makanan modern.

Dari bahan sederhana berupa bagian-bagian sapi, cungkring mampu menjadi kuliner yang dicari masyarakat dan wisatawan.

Bagi pencinta kuliner tradisional, cungkring bisa menjadi salah satu pilihan saat berkunjung ke Bogor. Rasanya yang khas sekaligus sejarah panjangnya membuat makanan ini punya cerita tersendiri di balik satu porsi hidangannya.

 

Editor : Annas Rohmanda Purbaningrum
cungkring sapi bogor kikil