Ditemui dikediamannya di Jalan Viena Tengah Blok J-L Solo Baru, Pemilik Fabel Pet Gallery itu sedang sibuk merawat beragam satwa. Mulai dari tokek hias, kadal, ular, dan tentu saja tarantula.
“Sebetulnya selain suka, juga untuk bisnis. Jadi ya merawat, ya jual beli karena prospek usahanya baik,” jelas Yohana yang sudah belasan tahun menggeluti jual beli satwa eksotis itu.
Untuk tarantula, Yohana menyebut memiliki keindahan dari corak warna dan terdapat banyak jenisnya. Perawatan hewan bertulang belakang tersebut juga relatif mudah.
“Sebetulnya semua tarantula memiliki mekanisme pertahanan yang berbentuk bisa melalui gigitannya. Namun ada beberapa jenis yang biasanya dijadikan peliharaan karena sifatnya tidak begitu agresif dan kadar bisa yang rendah. Biasanya jenis brachypelma dan grammostola yang sering jadi pilihan. Tarantula berbisa rendah lebih diminati dibandingkan berbisa sedang atau tinggi dari golongan out world,” bebernya.
Meski demikian, ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum memelihara tarantula. Pertama, memahami karakteristik dan cara pertahanan diri. Mengingat beberapa jenis tarantula memiliki sistem mekanisme pertahanan diri dengan melepaskan bulu-bulu halus di tubuhnya.
Ketika bulu halus tersebut terkena kulit manusia, bisa menyebabkan iritasi. Penanganannya, segera bilas dengan air bersih. Saat terkena gigitan, beri obat sesuai gejala yang timbul. Meskipun kadar bisanya rendah, tetap akan menimbulkan benjolan pada bekas gigitan. “Jika efeknya lebih parah, seperti alergi dan sejenisnya, harus langsung ke dokter,” ujarnya.
Yohana mengingatkan, ketika menemukan tarantula di alam liar, hindari untuk mengambilnya secara langsung. Sebab, tidak diketahui seberapa besar kadar bisanya.
Mayoritas tarantula lokal Indonesia, imbuh Yohana, memiliki kadar bisa medium dan tinggi, sehingga sangat tidak disarankan untuk dipelihara. “Kalau dari alam liar seperti jenis tarantula jawa, kadar bisanya lumayan tinggi. Jadi cukup bahaya,” terangnya.
Sebab itu, apapun tarantula yang dipelihara, Yohana menyarankan tidak terlalu berinteraksi dengan tangan terbuka demi keamanan. “Tarantula itu sebetulnya hewan display, jadi tidak untuk dimainkan,” ungkap Yohana.
Jika hal-hal tersebut sudah dipahami seorang pemilik tarantula, maka perawatannya akan terasa mudah. Cukup menyiapkan boks kaca yang tidak terlalu lebar dan dilengkapi dengan penutup. Jangan lupa, beri ventilasi udara.
Di dalam boks kaca tersebut bisa diisi aksesori untuk memperindah kandang. Antara lain serbuk sabut kelapa (cocopeat) untuk menyerupai habitat aslinya. Tempatkan pula wadah berisi air untuk menjaga kelembapan boks kaca. “Untuk aksesori seperti batang kayu atau lainnya itu soal selera,” timpal Alan.
Membersihkan kandang tarantula tidak perlu terlalu rutin. Kotoran cukup diambil menggunakan pinset. Untuk pakannya, tarantula lebih senang dengan serangga yang memiliki kadar air sedikit. Seperti jangkrik dan ulat hongkong.
“Mengganti cocopeat-nya juga tidak perlu semuanya. Ketika sudah kotor atau habis, tinggal diganti saja sebagian,” imbuh Alan.
Memelihara tarantula bisa membawa untung, karena peminatnya terus bertambah. Harga yang dipatok beragam. Mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Yang menjadi tantangannya, proses pengembangbiakan tidak mudah.
“Kesulitan pengembangbiakan beragam. Tak jarang si jantan malah dimakan sama betinanya. Selain itu, butuh pengawasan ekstra ketika telur tarantula menetas. Telat mengambil, anakan bisa dimangsa induknya. Kalau itu semua bisa diatasi, bisnis ini cukup menjanjikan,” pungkas Alan. (ves/wa/dam) Editor : Damianus Bram