“IUD itu istimewa, karena IUD ada dari tembaga, tapi juga yang free dan tidak mengandung hormon. Jadi entah orang itu punya tubuh yang kurus atau gemuk, ada jerawat, ada flek, itu tidak akan terpengaruh oleh IUD,” kata Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo, Sabtu (4/6).
Hasto menuturkan IUD yang dapat bergerak ke daerah organ tubuh lain ataupun terbawa ke dalam tubuh bayi yang ibu lahirkan merupakan sebuah mitos. Hal itu tidak mendasar dan tak bisa dipertanggungjawabkan.
Padahal, menurut dia, IUD merupakan salah satu alat kontrasepsi yang memberikan keamanan karena mampu mencegah terjadinya kehamilan dan memberikan jarak antarkelahiran.
Pada masa kini, terdapat IUD yang diciptakan dengan tidak mengandung hormon. Sehingga lebih aman untuk digunakan, baik untuk ibu yang bertubuh kurus atau gemuk dan lain sebagainya.
"IUD akan diletakkan di dalam rahim itu. Setelahnya, IUD tidak akan bergerak atau memengaruhi tempat lain di dalam tubuh ibu. Sebab, IUD berbeda dengan alat kontrasepsi berupa susuk, pil ataupun suntikan yang mengandung hormon dan bisa beredar ke seluruh tubuh," jelas dia.
Hasto menambahkan, IUD juga tidak memberikan efek berbahaya kepada ibu yang memiliki potensi darah tinggi ataupun tumor payudara.
“Jadi kalau ada yang bilang gagal hamil atau ada yang menempel di pipi atau di kepala bayi itu tidak benar. Kan bayi di dalam rahim ada di selaput ketuban atau yang namanya amnion itu,” kata dia.
Selain IUD, alat kontrasepsi lainnya yang sudah tersedia di Indonesia, di antaranya adalah progestogen only pill (POP) yang aman digunakan langsung oleh ibu setelah melahirkan, susuk satu batang ataupun dua batang dan implan.
Oleh sebab itu, guna mencegah mitos dan hoax beredar semakin parah di masyarakat, Hasto meminta agar para bidan yang tergabung ke dalam tim pendamping keluarga (TPK) dapat mengedukasi keluarga tentang amannya mengikuti program Keluarga Berencana (KB).
Para bidan dapat mengedukasi masyarakat dengan mulai memperkenalkan fungsi alat kontrasepsi, manfaatnya untuk mencegah terjadinya kekerdilan pada anak (stunting) serta menekankan segudang keunggulan dari alat, seperti IUD itu.
Tentunya, kata Hasto, para bidan harus melakukan edukasi itu dengan bahasa yang mudah dipahami dan mampu menempatkan diri setara dengan keluarga yang mengajukan konsultasi. Sehingga proses komunikasi bisa terjalin dengan baik, termasuk menjelaskan terkait metode vasektomi dan tubektomi.
“Pesan saya kepada ibu bidan, mohon selalu ingatlah etos, logos dan patos. Selalu menjiwai orang konseling dengan etika dan logika, tapi jangan lupa empati dan membayangkan bahwa saya adalah dia. Itu adalah saran dari Aristoteles, ribuan tahun yang lalu,” ucap Hasto. (Antara) Editor : Syahaamah Fikria