Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

International Rain Festival: Menyatu dengan Alam, Pohon, dan Hujan

Mannisa Elfira • Minggu, 28 Januari 2024 | 18:09 WIB
International Rain Festival (IRF) Ke-10 di Mugi Dance Studio, Desa Pucangan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo belum lama ini.
International Rain Festival (IRF) Ke-10 di Mugi Dance Studio, Desa Pucangan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo belum lama ini.

RADARSOLO.COM- Digelar kali ke-10, International Rain Festival (IRF) yang dipusatkan di Mugi Dance Studio, tetap membuat takjub.

Tercatat 16 kelompok dari lima negara tampil menyuguhkan karya terbaiknya di Dusun Krapyak RT 01 RW 07, Desa Pucangan, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Sabtu-Minggu (19-20/1/2024).

Harapannya, ajang ini bisa mengajak generasi muda untuk lebih mencintai alam semesta.

IRF digelar mulai sore hingga malam. Menyajikan bermacam variasi pertunjukan. Tidak hanya tari, juga ada pantomim, teater, musik, hingga fashion show.

Ditampilkan para seniman dari lima negara, yakni Meksiko, Italia, Singapura, Jerman, dan tentunya Indonesia. Khusus tuan rumah, diwakili para seniman dari Batusangkar (Sumatera Barat), Bandung dan Cirebon (Jawa Barat), Jogjakarta, Solo, Sukoharjo, dan Karanganyar.

“Ini International Rain Festival ke-10. Pertama kali diadakan tahun ini,” kata founder IRF sekaligus direktur artistik Mugiyono Kasido.

Ide munculnya IRF berawal saat kepindahan Mugi Dance Studio dari Palur ke Kartasura. Kala itu di sekitar Mugi Dance Studio terdapat lahan yang terbakar selama dua tahun berturut-turut. Penyebabnya apa, Mugiyono tidak tahu.

“Kemudian setiap mau hujan, di sekitar sini banyak orang membawa pupuk ke sawah. Ketika hujan sekali dua kali (turun), mereka mulai membersihkan lahannya. Setelah itu mereka bisa menanam,” ujar Mugiyono.

Selama dua tahun mengamati, akhirnya Mugiyono menyadari, ternyata petani di sekitarnya menunggu datangnya hujan. Ketika musim penghujan tiba, mereka siap-siap menanami lahannya masing-masing.

“Akhirnya saya punya ide rain festival. Konteksnya menyatu dengan alam, pohon, dan hujan yang harus disyukuri,” paparnya.

Dari IRF ini, Mugiyono berharap generasi muda lebih mencintai alam. Juga menyadarkan, betapa alam dan keseni itu berhubungan cukup erat.

“Ada kelebihan juga di festival ini. Di mana sesama seniman bisa saling ketemu. Karena menginap satu kompleks. Bisa ngobrol tentang kesenian. Ini menarik. Akhirnya membentuk relasi,” ujarnya.

Sejak awal menggelar IRF, Mugiyono sudah menggandeng berbagai seniman mancanegara. Mengingat dia punya banyak rekanan dari luar negeri.

“Mereka saya kabari, kalau tertarik dengan rain festival, bisa datang. Kami melaksanakannya setiap Januari. Biasanya minggu ketiga,” bebernya. (nis/fer)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#mugiyono kasido #irf #International Rain Festival