RADARSOLO.COM- Di balik kemegahan Candi Sukuh di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, ternyata juga menyimpan simbol-simbol pembuatan keris.
Ketua I sekaligus Ketua Bidang Edukasi Komunitas Boworoso Tosan Aji Solo (Brotosuro) Ady Sulistyono berupaya menerjemahkan arti pada relief pande di kompleks Candi Sukuh.
Sebelumnya, Ady menjelaskan sekilas tentang sistem tata letak Candi Sukuh.
Candi Sukuh memiliki sistem tata letak yang berurutan.
Dimana candi induk atau tempat yang paling suci terletak di bagian paling tinggi dan paling belakang.
“Sistem tata letak ini merupakan sistem tata letak candi Nusantara. Sering disebut juga sebagai sistem tata letak candi-candi prasejarah,” beber Ady, Senin (11/3/2024).
Nah, di kompleks Candi Sukuh, terdapat relief pande. Konon merupakan pindahan dari daerah Ngawi (perlu penelusuran lebih lanjut).
Relief pande tersebut merupakan “tulisan leluhur” tentang hal-hal yang mendasar yang berhubungan dengan nilai-nilai spiritual dalam penciptaan keris/tosan aji.
“Pengetahuan bagaimana idealnya seorang mpu pande. Disampaikan secara simbolik-filosofis menggunakan ikon-ikon,” jelas dia.
“Simbol-simbol dari kepercayaan yang dianut pada waktu itu, yaitu agama Ciwa (sekarang disebut Agama Hindu),” imbuh Ady.
Dalam pemaknaan relief pande, kata Ady, sangat berhubungan erat dengan kepercayaan-kepercayaan leluhur sebelumnya, yaitu Kapitayan, Animisme, Dinamisme, dan juga pemahaman Panteisme.
Adapula yang disebut sinengker atau kesinengkeran dalam kawruh atau pangawikan alias pengetahuan tentang padhuwungan (keris) yang luhur tersebut.
“Bergantinya kepercayaan masyarakat Nusantara, berakibat belum atau tidak adanya interpretasi secara mendetail dari relief pande di Candi Sukuh tersebut sampai saat ini,” beber Ady.
Kesinengkeran pada zaman leluhur menyebabkan hanya orang-orang tertentu yang “boleh” tahu tentang seluk beluk keris.
“Itupun hanya untuk diri sendiri. Kalau pun disampaikan, hanya secara tersirat,” ucap Ady.
Kondisi tersebut karena di dalam budaya atau tradisi spiritual, dan juga budaya maupun tradisi leluhur tanah air, termasuk karya-karya sastra penuh dengan hal-hal bersifat simbolik-filosofis.
“Bias penuh sanepa bahkan pasemon. Semakin tinggi atau luhur informasi yang disampaikan akan semakin tersirat dan multitafsir,” jelas Ady.
“Sehingga generasi sekarang tidak tahu mengapa keris menjadi salah satu prasyarat bagi seseorang satria,” ungkap Ady.
Diketahui, dalam masyarakat Jawa, seorang pria disebut sempurna ketika telah memiliki curiga (pusaka), wisma (rumah), turangga (kuda), kukila (burung), dan wanita (perempuan). (wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono