RADARSOLO.COM- Keris adalah salah satu tinggalan nenek moyang bangsa Indonesia yang masih dilestarikan hingga kini.
Namun di zaman serbadigital ini, keris seperti menjadi benda menakutkan.
Ketua I sekaligus Ketua Bidang Edukasi Komunitas Boworoso Tosan Aji Solo (Brotosuro) Ady Sulistyono menjelaskan, pada masa modern, peran keris sering dikaitkan dengan hal-hal negatif.
“Hal ini sangat mungkin terjadi karena kajian keris yang masih minim, sehingga masyarakat menerima segala informasi terkait keris tanpa mempertimbangkan validitasnya,” bebernya, Jumat (22/3/2024).
Kondisi tersebut jika dibiarkan akan mengakibatkan disinformasi profil keris sebagai identitas bangsa Indonesia.
Menyikapi kondisi tersebut, kata Ady, seharusnya diadakan penelitian dengan menyusuri kembali sejarah keris untuk mengetahui apa saja peranan keris pada awal diciptakan.
Melacak sejarah keris yang paling tua dapat dilakukan melalui relief dan prasasti. Atas dasar konteks data yang masih sesuai.
“Jika dibandingkan, informasi yang terdapat dalam prasasti dapat diinterpretasikan dengan lebih jelas daripada relief,” terang Ady.
Prasasti-prasasti tertua yang menyebutkan tentang keris berasal dari kerajaan Mataram Kuno pada abad IX-X Masehi.
Sejauh ini ditemukan sebanyak 12 buah prasasti dari berbagai daerah di Jawa bagian tengah.
Prasasti-prasasti tersebut adalah Kayuwungan, Tru I Tpussan II, Humanding, Jurungan, Haliwangbang.
Berikutnya Kwak I, Taragal, Taji, Poh, Rukam, Sangsang, dan Lintakan.
Masing-masing prasasti memberi perspektif terkait peranan keris saat upacara penetapan Sima.
Sedangkan untuk relief adalah relief pande di Candi Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. (wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono