RADARSOLO.COM-Keraton Solo menjadi pusat kebudayaan dan kesenian Jawa.
Bermacam kesenian mulai dari musik, adat-istiadat, pakaian daerah, tarian, dan lain sebagainya tumbuh berkembang di sini.
Salah satunya Bedhaya Ketawang. Tarian klasik jawa yang berkembang di lingkungan Keraton Solo.
Bedhaya Ketawang disakralkan. Menjadi simbol kebesaran raja. Hanya bisa dipentaskan ketika Tingalan Dalem Jumenengan atau hari peringatan penobatan Sri Susuhunan Paku Buwana di Pendapa Ageng Sasana Sewaka.
Bedhaya Ketawang merupakan pusaka suci Keraton Solo.
Sebab itu, tidak sembarang orang bisa menarikan bedhaya satu ini.
Karena sembilan penari yang terpilih haruslah masih perawan dan dalam kondisi suci (tidak sedang haid).
Dikutip dari Makna Tari Bedhaya Ketawang sebagai Upaya Pengenalan Budaya Jawa dalam Pembelajaran BIPA oleh Nurul Hidayah, dkk, penari yang berjumlah sembilan dan dalam kondisi suci memiliki filosofi.
Yakni manusia harus bisa menutup sembilan lubang di badan agar bisa menyucikan badannya.
Sembilan lubang yang dimaksud yaitu dua mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, mulut, anus dan lubang alat vital.
Jumlah sembilan merupakan simbol keberadaan alam semesta dengan segala isinya.
Meliputi matahari, bintang, bulan, angkasa (langit), bumi (tanah), air, angin, api, dan makhluk hidup yang ada di dunia.
Baca Juga: Kembar Mayang di Pernikahan Adat Jawa Bukan Sekadar Hiasan, Ternyata Punya Makna Mendalam
Tak hanya itu, penari yang berjumlah sembilan orang ini juga melambangkan letak bintang kalajengking yang berjumlah sembilan.
Penari Bedhaya Ketawang berbusana dodot banguntulak dan cindhe kembang sebagai bawahnya, sanggul bokor mengkurep lengkap dengan perhiasan-perhiasannya.
Menjadikan penari layaknya pengantin wanita. Sebab tarian ini melambangkan kisah cinta mistis Panembahan Senapati dengan Kanjeng Ratu Kencana Sari atau masyarakat umum mengenalnya dengan Kanjeng Ratu Kidul, penguasa pantai selatan.
Dipercaya Panembahan Senapati dan Kanjeng Ratu Kidul bertemu di Pantai Parangkusumo, Yogyakarta.
Mereka kemudian menjalin hubungan asmara secara spiritual.
Hubungan keduanya ini untuk memperkuat dukungan politik dan legitimasi kekuasaan Panembahan Senapati di tanah Jawa.
Tarian ini memiliki unsur magis di dalamnya.
Ketika Bedhaya Ketawang dipentaskan dipercaya sang Kanjeng Ratu Kencana Sari ikut serta menari.
Keberadaan sang ratu penguasa pantai selatan di tengah-tengah para penari hanya bisa disaksikan oleh orang tertentu yang mempunyai kemampuan spiritual.
Atau hanya orang-orang terpilih yang bisa melihat kehadiran Kanjeng Ratu Kencana Sari.
Pementasan dan latihan Bedhaya Ketawang ini dilaksanakan setiap hari Anggara Kasih atau Selasa Kliwon.
Anggara kasih dipercaya masyarakat jawa sebagai hari penuh keberkahan.
Latihan rutin Bedhaya Ketawang dilaksanakan setiap Selasa Kliwon, pukul 13.00 di Pendapa Ageng Sasana Sewaka. (mg1/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono