RADARSOLO.COM-Wayang kulit merupakan kesenian dalam masyarakat Jawa yang mengisahkan cerita Ramayana dan Mahabarata.
Pertunjukan wayang kulit dibawakan oleh seorang dalang.
Wayang kulit diartikan sebagai gambaran kehidupan manusia dari lahir sampai tutup usia.
Dalam sebuah pagelaran wayang kulit terdapat beberapa perlengkapan yang mendukung jalannya pertunjukan.
Salah satunya adalah blencong.
Blencong merupakan alat penerangan dalam pertunjukan wayang kulit.
Berfungsi untuk menciptakan bayangan pada layar putih atau kelir.
Menurut Mulyono (1979), blencong berasal dari akar kata cang atau cong yang berarti tidak lurus.
Atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan mencong atau menceng karena mempunyai sumbu yang tidak lurus.
Blencong sejatinya merupakan lampu yang berasal dari minyak kelapa.
Terdapat sumbu ditengahnya sebagai sumber api.
Oleh karena itu, asisten dalang (penyimping) menjaga blencong agar tetap menyala selama pertunjukan wayang kulit berlangsung.
Baca Juga: BUDAYA JAWA: Beragam Istilah yang Sangat Langka Terdengar, Ada Sekethip hingga Sakidu
Biasanya blencong terbuat dari perunggu atau tembaga.
Lampu blencong memiliki berbagai bentuk seperti burung Jatayu, celengan dengan sayap kiri dan kanan, dan lain sebagainya.
Blencong melambangkan matahari. Matahari memiliki peran yang sangat vital dalam kehidupan.
Semua makhluk hidup membutuhkan sinar matahari untuk bertahan hidup.
Bagi manusia, sinar matahari di pagi hari mengandung vitamin D untuk meningkatkan kekebalan tubuh.
Bagi tumbuhan, sinar matahari digunakan untuk proses pembuatan makanan atau fotosintesis.
Itulah makna filosofis pada blencong. (mg4/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono