Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

BUDAYA JAWA: Apa itu Basa Bagongan? Komunikasi Abdi Dalem Keraton Yogyakarta

Tri wahyu Cahyono • Kamis, 23 Januari 2025 | 17:49 WIB
Ilustrasi para abdi dalem Keraton Yogyakarta ikuti sebuah kegiatan.
Ilustrasi para abdi dalem Keraton Yogyakarta ikuti sebuah kegiatan.

RADARSOLO.COM-Selain Keraton Solo, Keraton Yogyakarta juga tetap eksis hingga kini.

Keraton Yogyakarta didirikan pada 1755 oleh Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I.

Keraton Yogyakarta diakui kedaulatannya di pemerintahan. Di bawah kepemimpinan Sang Sultan.

Di dalam keraton terjadi interaksi antarabdi dalem dengan para bangsawan keraton, baik secara individu maupun kelompok.

Bahasa yang digunakan untuk berinteraksi ini biasa disebut basa bagongan.

Basa bagongan adalah bahasa khas yang hanya digunakan untuk berkomunikasi di lingkungan keraton.

Basa bagongan biasa digunakan antarabdi dalem dan para bangsawan keraton atau ningrat.

Di Keraton Yogyakarta terdapat 11 basa bagongan yang membedakan dengan Bahasa Jawa pada umumnya.

Berikut beberapa basa bagongan yang masih digunakan di Keraton Yogyakarta:

Henggeh atau nggeh. Dalam bahasa Jawa umumnya sama dengan inggih, nggih. Dalam bahasa Indonesia iya atau ya.

Boya atau mboya. Kalau dalam bahasa Jawa umum sama dengan boten atau mboten. Dalam bahasa Indonesia tidak.

Manira. Kalau dalam bahasa Jawa umum sama dengan kula. Dalam bahasa Indonesia saya, aku.

Baca Juga: BUDAYA JAWA: 8 Laku yang Harus Dijalankan Pemimpin dalam Astha Brata

Pakenira. Kalau dalam bahasa Jawa umum sama dengan panjenengan, sampeyan, kowe. Dalam bahasa Indonesia Anda, kamu. Digunakan ketika para abdi dalem berbicara dengan yang sejawat atau sebaya.

Kalau yang pangkatnya lebih tinggi menggunakan nandalem (kependekan dari panjenengan dalem).

 

Punapi. Kalau dalam bahasa Jawa umum sama dengan punapa. Dalam bahasa Indonesia apa.

Puniki. Kalau dalam bahasa Jawa umum sama dengan niki atau iki. Dalam bahasa Indonesia ini.

Puniku. Kalau dalam bahasa Jawa umum sama dengan niku atau iku. Dalam bahasa Indonesia itu.

Wenten. Kalau dalam bahasa Jawa umum sama dengan wonten, ana. Dalam bahasa Indonesia ada.

Nedha. Kalau dalam bahasa Jawa umum sama dengan mangga. Dalam bahasa Indonesia mari, silakan.

Besaos. Kalau dalam bahasa Jawa umum sama dengan kemawon, mawon, wae. Dalam bahasa Indonesia hanya, saja.

Seyos. Kalau dalam bahasa Jawa umum sama dengan sanes, liya. Dalam bahasa Indonesia bukan, lain. (mg4/wa)

 

 

Editor : Tri wahyu Cahyono
#budaya jawa #keraton yogyakarta #basa bagongan #komunikasi #abdi dalem