RADARSOLO.COM-Gunungan merupakan salah satu instrument dalam pagelaran wayang kulit.
Bentuknya menyerupai gunung atau tumpeng. Gunungan biasa juga disebut kayon.
Kayon berasal dari kata kayu sebagai gambaran dunia sumber kehidupan manusia.
Kayon menurut Sastra Miruda melambangkan kawruh lahir dan batin.
Gunungan dalam dunia pedalangan menduduki peran penting.
Digunakan sebagai tanda dimulainya pertunjukan, menyekat adegan cerita, dan mengakhiri cerita.
Gunungan adalah simbol tribuwana atau tiga dunia. Atas, bawah, dan tengah (Sumardjo, 2010).
Dalam gunungan terbagi 3 struktur, yaitu palemahan, lengkeh-genukan, dan pucuk.
Ada ahli yang mengatakan bahwa gunungan adalah replika dari gunung Mahameru tempat tinggalnya para dewa.
Gunungan terdapat dua jenis, yaitu gunungan blumbangan dan gunungan gapuran.
Gunungan blumbangan menurut sumber diciptakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga pada awal Keraton Demak tahun 1443.
Seperti yang ditulis oleh KPA Kusumadilaga pada 1891.
Baca Juga: BUDAYA JAWA: Apa itu Basa Bagongan? Komunikasi Abdi Dalem Keraton Yogyakarta
Sedangkan gunungan gapuran menurut KPA Kusumadilaga diciptakan oleh Raja Keraton Solo Paku Buwana (PB) II pada zaman Kartasura.
Ciri-ciri Gunungan Blumbangan
• Lebih kecil dan biasanya lebih pendek
• Terdapat blumbang (kubangan air)
• Terdapat ikan
• Bagian belakang disunging/dicet layaknya air
• Ornamen bagian kiri dan kanan seimbang atau sama
Ciri-ciri Gunungan Gapuran
• Lebih besar, lebih tinggi, dan lebih ramping
• Terdapat gapura atau rumah
• Terdapat gupala yaitu arca raksasa
• Bagian belakang sunggingan api (dicat layaknya api)
• Terdapat banteng dan harimau
Dalam kitab Wretasancaya Sekar Mandraka abad 12 sudah disebutkan “luwir mawayang tehen gatining kang wukir kiniliran”.
Yang artinya “Gunung-gunung memberikan kesan seolah-olah seperti pertunjukan wayang kulit”
Di dalam gunungan terdapat berbagai gambar yang mengandung makna.
Diantaranya: gunungan berbentuk kerucut melambangkan kehidupan manusia.
Semakin tinggi ilmu dan usia manusia, maka semakin mendekatkan diri kepada sang pencipta.
Pintu gerbang melambangkan batas antara alam baka dan alam akhirat.
Ular atau naga menggambarkan betapa sulitnya jalan berliku yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan.
Rusa berekor adalah binatang aneh yang diartikan sebagai lambang kemauan hidup yang bermacam-macam tanpa mempetrimbangkan untung dan ruginya.
Baca Juga: BUDAYA JAWA: 8 Laku yang Harus Dijalankan Pemimpin dalam Astha Brata
Ayam di atas pohon melambangkan akan datangnya waktu.
Adapun kera melambangkan ketangkasan dalam kehidupan.
Harimau dan banteng yang saling berhadapan melambangkan kewibawaan dan tangguh dalam menghadapi lawannya.
Adapun banteng melambangkan watak yang jujur, kuat, dan pantang menyerah.
Burung melambangkan suatu kesenangan.
Sayap melambangkan kewaspadaan dalam menempuh jalan menuju kesempurnaan hidup.
Gupala dua raksasa yang ditugaskan menjaga pintu gerbang menuju Khayangan Suralaya, melambangkan bahwa hidup di dunia banyak godaan, cobaan, tantangan, dan marabahaya.
Rumah joglo melambangkan suatu rumah yang didalamnya ada kehidupan. (mg3/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono