RADARSOLO.COM- Budaya Jawa memiliki banyak ragam. Salah satunya adalah mantra.
Mantra Lungjangga adalah salah satu bentuk mantra pengasihan dalam tradisi lisan masyarakat Jawa.
Mantra Lungjangga bertujuan menarik perhatian dan menumbuhkan rasa kasih sayang dari seseorang yang dituju.
Adapun rapalan Mantra Lungjangga sebagai berikut:
Ingsun amatak ajiku si Lungjangga,
Mangling-manglung anoleh kekasihku,
Daktepungake pucuking wuluku puhun,
Daktepungake maniking mripatku,
Telenging rasaku, kumpul luluhing rasa,
Rohe rohku,
Nyawane nyawaku,
Sukmane sukmaku
Baca Juga: BUDAYA JAWA: Rahasia Mantra Jawa Kuno Randa Dhadhapan
Badane badanku,
Karepe karepku,
Rasane rasaku,
Teka welas teka asih si jabang bayi ........ andulu badan saliraku
Rapal mantra Lungujangga ini diyakini memiliki kekuatan sugestif yang dapat memengaruhi batin orang yang disebutkan namanya dalam mantra tersebut.
Dengan merapalkan mantra ini, seseorang berharap dapat membangun ikatan emosional yang kuat.
Sehingga orang yang dituju akan merasa tertarik dan memiliki perasaan cinta terhadap perapal mantra.
‘telenging rasaku, kumpul luluhing rasa, rohe rohku, nyawane nyawaku, sukmane sukmaku, badane badanku, karepe karepku, rasane rasaku’,
Ini menggambarkan kesatuan batin yang erat antara kedua individu.
Ungkapan ini juga sebagai penegas adanya penyatuan perasaan, jiwa, dan kehendak antara perapal dan orang yang menjadi sasaran mantra. Kepercayaan akan penyatuan ini diyakini mampu menciptakan ikatan emosional yang kuat, sehingga perasaan kasih sayang dapat tumbuh dengan lebih intens.
Selain itu, bagian “… teka welas teka asih si jabang bayi … andulu badan saliraku” menunjukkan harapan bahwa orang yang disebut dalam mantra akan merasakan kasih sayang dan tertarik kepada perapal.
Ungkapan ini mencerminkan keyakinan bahwa mantra dapat memengaruhi perasaan dan pandangan orang yang dituju, sehingga ia akan memberikan perhatian lebih kepada perapal.
Dengan demikian, mantra Lungjangga tidak sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah sarana spiritual yang diyakini mampu membangkitkan sugesti dan mempengaruhi perasaan seseorang sesuai dengan tradisi kepercayaan masyarakat Jawa.
Baca Juga: BUDAYA JAWA: Khusus Dipakai untuk Raja, Ini Dia Filosofi Batik Motif Parang
Tentunya dalam merapalkan mantra harus diikuti laku spiritual sebagai syarat dan bentuk kesungguhan dalam meminta kepada Tuhan. (mg2/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono