RADARSOLO.COM-Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, mantra bukan sekadar rangkaian kata.
Melainkan bagian dari laku spiritual yang harus dijalani dengan kesungguhan.
Sebuah mantra dipercaya akan lebih ampuh jika diiringi dengan tirakat, keyakinan, dan doa kepada Tuhan.
Salah satunya adalah mantra Panulak Durjana. Sudah pernah dengar?
Seperti namanya, mantra ini digunakan untuk melindungi diri dari bahaya terutama saat beristirahat.
Niyatingsun arep turu
Kasurku segara
Kemulku mega
Bantalku baya putih,
Ngisorku macan putih,
Kiwa tengenku malaekat satus patang puluh,
Samangsa ana wong gawe piala, ingsun gugahen
Baca Juga: BUDAYA JAWA: Mengenal Istilah Magi dalam Praktik Mantra Jawa
Mantra ini berfungsi sebagai penolak bala, memberikan rasa aman bagi si perapal.
Dalam teksnya, terdapat unsur sugesti yang kuat, ‘niyat ingsun arep turu, kasurku segara, kemulku mega, bantalku baya putih, ngisorku macan putih, kiwa tengenku malaekat satus patang puluh’
Hal tersebut menggambarkan tempat tidur yang luas seperti lautan, selimut berupa awan, bantal dari buaya putih, dan perlindungan macan putih serta 140 malaikat di sekelilingnya menciptakan perasaan tenang dan terlindungi.
Bagian ‘samangsa ana wong gawe piala, ingsun gugahen’ ingin menegaskan keyakinan bahwa jika ada bahaya yang datang, para penjaga gaib tersebut akan membangunkan si perapal.
Ini menunjukkan bahwa mantra bukan hanya sekadar kata-kata, tetapi juga alat untuk membangun ketenangan batin.
Namun, dalam tradisi spiritual Jawa, mantra saja tidak cukup. Agar benar-benar berkhasiat, harus ada usaha batin yang menyertainya, seperti tirakat dan doa.
Dengan begitu, mantra bukan hanya menjadi sekadar warisan budaya, tetapi juga pengingat bahwa perlindungan sejati datang dari keseimbangan antara usaha lahir dan batin. (mg2/wa)
Editor : Tri wahyu Cahyono