RADARSOLO.COM - Pernah menggunakan kata ambyar, doyan, atau kesusu dalam percakapan sehari-hari? Bagi sebagian orang, kata-kata tersebut mungkin sudah terasa begitu akrab hingga dianggap sebagai bagian dari bahasa Indonesia.
Padahal, beberapa di antaranya berasal dari bahasa Jawa dan kini telah resmi tercatat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Masuknya kosakata daerah ke dalam KBBI menunjukkan bahwa bahasa Indonesia terus berkembang mengikuti penggunaan masyarakat. Ketika suatu kata digunakan secara luas dan memenuhi sejumlah pertimbangan kebahasaan, kata tersebut dapat diakui sebagai bagian dari kosakata bahasa Indonesia.
Baca Juga: HUT Ke-80 Pemkab Sukoharjo, Lima Pelari Lahap 80 Kilometer Keliling 12 Kecamatan
Ambyar
Salah satu kata yang belakangan semakin populer ialah ambyar.
Popularitasnya meningkat seiring berkembangnya musik campursari dan lagu-lagu bertema patah hati, terutama yang dipopulerkan oleh mendiang Didi Kempot. Tak heran jika kini kata ambyar sering digunakan anak muda untuk menggambarkan perasaan yang hancur setelah putus cinta.
Namun, dalam KBBI, ambyar memiliki makna yang lebih luas, yakni "bercerai-berai, berpisah-pisah, atau tidak terkonsentrasi lagi". Meski sering dipakai untuk menggambarkan kondisi hati, kata ini sebenarnya juga dapat merujuk pada keadaan benda atau sesuatu yang tercerai-berai.
Baca Juga: Datang Tangan Kosong Terasa Canggung, Benarkah 'Kondangan Akademik' Jadi Budaya Baru Mahasiswa UNS?
Guyon
Kosakata lain yang mungkin tidak asing adalah guyon. Kata ini digunakan untuk menyatakan kegiatan bergurau atau bercanda. Di Jawa, ungkapan seperti "mung guyon" sering diucapkan ketika seseorang ingin menegaskan bahwa ucapannya hanyalah candaan.
Kini, kata guyon juga semakin sering muncul dalam percakapan berbahasa Indonesia, baik di media sosial maupun dalam pemberitaan. Tak sedikit orang yang memilih menggunakan kata ini karena dianggap lebih santai dan terasa akrab dibandingkan kata "bergurau".
Kesusu
Berikutnya ada kata kesusu. Masyarakat Jawa menggunakan kata ini untuk menggambarkan seseorang yang melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa atau terburu-buru. Misalnya ketika seseorang berangkat kuliah tanpa sempat sarapan karena bangun kesiangan, temannya mungkin akan berkomentar, "Kesusu banget."
Makna tersebut juga tercatat dalam KBBI, yaitu tergesa-gesa atau terburu-buru. Meski berasal dari bahasa Jawa, kata ini kini cukup sering terdengar dalam percakapan masyarakat di berbagai daerah, terutama di media sosial.
Doyan
Tak kalah populer ialah kata doyan. Banyak orang menggunakannya untuk menyatakan kesukaan terhadap sesuatu, seperti "Aku doyan makanan pedas."
Dalam KBBI, kata doyan dijelaskan memiliki etimologi dari bahasa Jawa Kuno yang bermakna "ingin sekali" atau memiliki hasrat yang kuat, terutama berkaitan dengan makan dan minum. Seiring waktu, penggunaannya berkembang menjadi kata yang menunjukkan kegemaran atau kesukaan terhadap sesuatu secara umum.
Getun
Sementara itu, kata getun mungkin tidak sepopuler empat kata sebelumnya, tetapi masih cukup sering terdengar di kalangan masyarakat Jawa. Dalam KBBI, getun berarti kecewa atau menyesal. Misalnya, seseorang merasa getun karena temannya tiba-tiba membatalkan rencana main yang sudah dinantikan sejak lama.
Masuknya kata-kata seperti ambyar, guyon, kesusu, doyan, hingga getun ke dalam KBBI menjadi bukti bahwa bahasa Indonesia terus diperkaya oleh bahasa daerah. Kosakata yang awalnya hanya digunakan di lingkungan tertentu dapat berkembang menjadi bagian dari bahasa nasional ketika dipakai secara luas oleh masyarakat.
Bagi mahasiswa rantau yang sedang menempuh pendidikan di Solo, mengenal kosakata tersebut bukan hanya membantu memahami percakapan sehari-hari, tetapi juga menunjukkan bahwa bahasa Jawa memiliki kontribusi besar dalam memperkaya khazanah bahasa Indonesia. Bisa jadi, tanpa disadari, ada kata-kata yang selama ini sering diucapkan ternyata memiliki akar dari bahasa daerah dan telah diakui secara resmi dalam KBBI.
Editor : Kabun Triyatno