RADARSOLO.COM - Pernah mendengar teman berkata, "Moro-moro udan deres," lalu mengira ada seseorang yang datang? Atau bingung ketika ada yang berkata, "Atos-atos nggih, pak," padahal yang terlintas di kepala justru benda yang keras?
Bagi mahasiswa rantau yang baru tinggal di Solo dan sekitarnya, bahasa Jawa memang menyimpan banyak kejutan.
Salah satunya terlihat pada beberapa kosakata yang berubah makna ketika diucapkan dua kali. Sekilas terdengar sama, tetapi arti kata dasarnya bisa sangat berbeda dengan bentuk ulangnya. Tak heran, hal ini kerap membuat pendatang salah menangkap maksud lawan bicara.
Moro dan moro-moro
Salah satu contohnya ialah kata moro. Dalam bahasa Jawa, moro berarti datang. Kata ini lazim digunakan untuk menunjukkan seseorang yang tiba di suatu tempat.
Namun, ketika diulang menjadi moro-moro, maknanya berubah menjadi "tiba-tiba". Misalnya dalam kalimat, "Moro-moro listrik mati," yang berarti "Tiba-tiba listrik padam."
Pada konteks ini, moro-moro sama sekali tidak berkaitan dengan seseorang yang datang, melainkan menunjukkan sebuah kejadian yang berlangsung secara mendadak.
Baca Juga: Rayap Tembaga Dinamo, Buruh Harian Lepas Pabrik di Ampel Rugikan Perusahaan Rp 47 Juta
Perubahan makna seperti ini cukup sering ditemui dalam percakapan sehari-hari masyarakat Jawa, sehingga penting dipahami agar tidak terjadi salah pengertian.
Atos dan atos-atos
Contoh lain ialah kata atos. Sebagai kata dasar, atos memiliki arti keras. Meski demikian, ketika menjadi atos-atos, maknanya justru berubah menjadi "hati-hati".
Ungkapan ini kerap terdengar saat seseorang berpamitan atau mengingatkan orang lain. Kalimat seperti, "Atos-atos nggih, pak," berarti "Hati-hati di jalan ya, pak." Bagi pendatang yang baru mendengarnya, bukan tidak mungkin muncul kebingungan karena makna "keras" terasa tidak berkaitan dengan pesan untuk berhati-hati.
Keri dan keri-keri
Kosakata berikutnya adalah keri. Kata ini memiliki arti ketinggalan atau tertinggal. Namun, saat diulang menjadi keri-keri, maknanya bergeser menjadi "belakangan" atau "nanti saja".
Ungkapan ini biasanya muncul dalam percakapan santai. Misalnya, seseorang berkata, "Aku teko keri-keri wae," yang berarti "Aku datang belakangan saja." Kalimat tersebut tidak menunjukkan bahwa seseorang benar-benar tertinggal, melainkan memilih datang setelah yang lain lebih dulu hadir.
Perubahan makna ini menjadi salah satu keunikan bahasa Jawa karena bentuk pengulangan tidak selalu memperkuat arti kata dasarnya, melainkan dapat menghasilkan makna baru yang berbeda.
Amit dan amit-amit
Contoh yang mungkin paling mengundang senyum adalah kata amit. Dalam bahasa Jawa, amit berarti permisi. Kata ini biasa diucapkan ketika seseorang hendak melewati orang lain, berpamitan, atau memasuki suatu tempat sebagai bentuk sopan santun.
Namun, suasananya berubah ketika kata tersebut menjadi amit-amit. Alih-alih berarti "permisi dua kali", ungkapan ini justru digunakan untuk menolak atau menjauhkan sesuatu yang dianggap buruk, sial, atau tidak diharapkan.
Ungkapan seperti, "Amit-amit, ojo nganti kedadeyan," berarti "Semoga jangan sampai terjadi."
Karena cukup populer, frasa ini bahkan sering digunakan dalam percakapan berbahasa Indonesia sebagai ekspresi spontan saat mendengar kabar yang kurang menyenangkan.
Perbedaan makna antara amit dan amit-amit sering kali menjadi bagian yang paling mengejutkan bagi mahasiswa rantau. Sebab, jika diterjemahkan secara harfiah, keduanya memang terdengar seolah hanya pengulangan kata yang sama.
Keempat contoh tersebut menunjukkan bahwa bahasa Jawa memiliki kekayaan makna yang tidak selalu bisa dipahami hanya dari arti kata dasarnya. Dalam beberapa kasus, pengulangan kata justru menghasilkan makna baru yang sama sekali berbeda.
Bagi mahasiswa rantau yang sedang menempuh studi di Solo, mengenal kosakata seperti moro-moro, atos-atos, keri-keri, hingga amit-amit dapat menjadi bekal sederhana untuk lebih memahami percakapan sehari-hari masyarakat sekitar. Selain membantu menghindari salah paham, memahami ungkapan lokal juga menjadi salah satu cara menikmati keberagaman bahasa dan budaya yang hidup di Kota Bengawan.
Editor : Kabun Triyatno