Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

Odol hingga Sanyo, Mengapa Nama Merek Bisa Menjadi Nama Barang?

Inayah Choirunisa • Kamis, 9 Juli 2026 | 11:30 WIB
Merk pasta gigi jadul yang saat ini kerap disebut
Merk pasta gigi jadul yang saat ini kerap disebut

RADARSOLO.COM - "Pulang nanti beli Aqua, ya." Kalimat seperti ini mungkin sudah tidak asing terdengar dalam percakapan sehari-hari.

Menariknya, orang yang diminta membeli belum tentu membawa air minum bermerek Aqua. Bisa saja yang dibeli adalah merek lain, tetapi tetap dipahami sebagai air minum dalam kemasan. Fenomena serupa juga terjadi pada kata "odol" untuk pasta gigi atau "sanyo" untuk pompa air.

Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan nama merek untuk menyebut seluruh jenis barang sejenis merupakan hal yang umum.

Baca Juga: Cara Cek Status Update Desil Juli 2026, Apakah Menjadi Penerima Bansos? Simak Langkah Mudahnya

Tanpa disadari, masyarakat telah menjadikan nama merek sebagai kosakata yang lebih akrab dibandingkan nama produknya sendiri. 

Fenomena ini dikenal sebagai generisasi merek (genericization), yakni ketika sebuah merek digunakan untuk menyebut kategori produk secara umum.

Dalam dunia hukum merek dagang, kondisi ketika sebuah merek menjadi terlalu umum hingga berpotensi kehilangan identitas mereknya dikenal sebagai genericide.

Baca Juga: Fakta-fakta Penggeledahan Cafe de'Clan Cipete dan 11 Tempat Lainnya: Penemuan Brankas Misterius Berisi Uang Rp60 Miliar, Siapa yang Disasar Polisi?

Di Indonesia, terdapat banyak contoh yang masih sering digunakan hingga sekarang.

Kata "Aqua" kerap dipakai untuk menyebut semua air minum dalam kemasan, meskipun produk yang dibeli berasal dari merek lain. Begitu pula dengan "odol" yang telah lama digunakan sebagai sebutan umum untuk pasta gigi.

Selain itu, masyarakat juga akrab menggunakan kata "sanyo" untuk pompa air, "teflon" untuk wajan anti lengket, hingga "Honda" untuk menyebut sepeda motor secara umum di sejumlah daerah.

Fenomena tersebut umumnya terjadi karena sebuah merek berhasil menjadi pelopor atau memiliki popularitas yang sangat tinggi.

Nama merek yang sederhana, mudah diucapkan, serta terus digunakan dalam waktu lama membuat masyarakat lebih mudah mengingatnya. Akibatnya, nama merek perlahan bergeser dari identitas sebuah produk menjadi nama yang mewakili seluruh kategori barang tersebut.

Kebiasaan ini juga diwariskan melalui penggunaan bahasa dalam keluarga dan lingkungan sekitar. Anak-anak yang sejak kecil mendengar orang tua menyebut pasta gigi sebagai "odol" atau air minum kemasan sebagai "Aqua" cenderung akan menggunakan istilah yang sama hingga dewasa. Tanpa disadari, bahasa terus berkembang mengikuti kebiasaan para penuturnya.

Dalam komunikasi sehari-hari, penggunaan nama merek sebagai nama barang umumnya tidak menimbulkan kesalahpahaman karena lawan bicara tetap memahami maksud yang disampaikan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa tidak pernah berhenti berkembang.

Kosakata yang digunakan masyarakat dapat berubah seiring kebiasaan, budaya, hingga kekuatan sebuah merek dalam kehidupan sehari-hari.

Di balik kata-kata sederhana seperti "Aqua", "Odol", atau "Sanyo", tersimpan kisah tentang bagaimana bahasa mengikuti cara manusia berkomunikasi dan bagaimana sebuah merek dapat meninggalkan jejak yang begitu kuat hingga menjadi bagian dari kosakata sehari-hari.

Editor : Kabun Triyatno
#merek #produk #akrab #bahasa #identitas