Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

Kenapa Lagu Bisa Muter Terus di Kepala? Ternyata Ada Fenomena Bernama Earworm

Inayah Choirunisa • Minggu, 12 Juli 2026 | 13:21 WIB
Ilustrasi: bu.edu/synapse
Ilustrasi: bu.edu/synapse

RADARSOLO.COM - Pernah tanpa sadar terus mengulang potongan lagu yang sedang viral di TikTok atau jingle iklan, padahal hanya mendengarnya beberapa detik?

Meski musiknya sudah lama berhenti diputar, melodi tersebut justru terus terngiang di kepala hingga sulit dihilangkan. 

Fenomena yang hampir pernah dialami semua orang ini ternyata memiliki nama, yaitu earworm.

Baca Juga: Temani Perjalanan, Ini Dia Lagu Keshi yang Wajib Kamu Dengarkan

Dalam dunia psikologi, earworm dikenal sebagai involuntary musical imagery (INMI), yakni kondisi ketika potongan lagu atau melodi muncul dan berulang di dalam pikiran secara tidak sengaja.

Fenomena ini juga sering disebut stuck song syndrome. Meski terdengar mengganggu, earworm bukanlah gangguan kesehatan. Berbagai penelitian menunjukkan lebih dari 90 persen orang pernah mengalaminya setidaknya sekali dalam hidup.

Istilah earworm sendiri merupakan metafora yang menggambarkan lagu seolah-olah "masuk" ke dalam pikiran dan sulit keluar. Umumnya, bagian lagu yang paling sering terngiang adalah chorus atau hook, yaitu bagian yang paling mudah diingat.

Baca Juga: Lirik dan Arti Lagu Lalaki Langit Ciptaan Bupati Purwakarta Om Zein, Mengapa Dinilai Rendahkan Perempuan yang Berujung Pemeriksaan?

Potongan lagu tersebut biasanya terus berulang selama 15 hingga 30 detik sebelum akhirnya menghilang atau kembali muncul di lain waktu.

Lantas, mengapa hal itu bisa terjadi? 

Salah satu penyebabnya adalah cara otak memproses suara. Bagian otak yang disebut auditory cortex atau korteks pendengaran bertugas mengenali dan mengolah musik yang didengar. Setelah seseorang mendengarkan sebuah lagu, terutama yang memiliki melodi sederhana dan berulang, bagian otak ini dapat terus "memutar ulang" melodi tersebut meski sumber suaranya sudah tidak ada.

Selain itu, otak juga memiliki sistem yang disebut phonological loop atau loop fonologis, yaitu tempat penyimpanan sementara untuk informasi berbentuk suara. 

Sistem inilah yang membantu seseorang mengingat kata-kata, percakapan, maupun melodi.

Ketika sebuah lagu memiliki pola yang mudah dikenali, lirik yang sederhana, serta tempo yang menarik, otak akan lebih mudah menyimpannya sehingga lagu tersebut lebih berpotensi menjadi earworm.

Paparan yang berulang juga menjadi salah satu faktor pemicunya. Tak heran jika lagu-lagu yang sedang viral di media sosial lebih mudah menempel di ingatan karena sering muncul dalam berbagai video dengan potongan yang sama. 

Kondisi emosional seperti stres, bosan, atau lelah juga dapat membuat seseorang lebih rentan mengalami earworm.

Meski terkadang terasa mengganggu, earworm umumnya akan hilang dengan sendirinya. Jika ingin menguranginya, seseorang dapat mengalihkan perhatian ke aktivitas lain, seperti membaca buku, mengunyah permen karet, atau mendengarkan lagu yang berbeda. Cara-cara tersebut membantu otak memutus pengulangan melodi yang terus berputar di kepala.

Jadi, ketika sebuah lagu terus terngiang sepanjang hari, tidak perlu khawatir. Kemungkinan besar, otak sedang bekerja sebagaimana mestinya. Fenomena earworm justru menunjukkan betapa kuatnya kemampuan otak dalam menyimpan dan memproses ingatan musikal, bahkan hanya dari potongan lagu yang didengar selama beberapa detik.

Editor : Kabun Triyatno
earworm psikolog musik lagu otak