RADARSOLO.COM - Pernah sadar nggak, lagu-lagu bertema patah hati hampir selalu mendominasi tangga lagu di Indonesia? Mulai dari karya Bernadya, Nadin Amizah, Mahalini, Sal Priadi, hingga Tulus, lagu dengan lirik sedih seolah tak pernah kehilangan pendengar. Bahkan, banyak orang justru sengaja memutar playlist galau meski sedang tidak patah hati.
Fenomena ini ternyata bukan sekadar soal selera musik. Ada alasan psikologis dan budaya yang membuat lagu galau begitu dekat dengan masyarakat Indonesia.
Berdasarkan laporan CNN Indonesia, lagu-lagu bernuansa melankolis masih mendominasi tangga lagu di berbagai platform streaming seperti Spotify dan YouTube Music. Sementara itu, survei JakPat 2025 menunjukkan bahwa genre pop menjadi genre favorit masyarakat Indonesia. Menariknya, sebagian besar lagu pop Indonesia justru mengangkat tema kehilangan, patah hati, atau kerinduan.
Baca Juga: Ambil Pesanan Sabu, Oknum Kadus di Wonolopo Tasikmadu Dicokok Polres Karanganyar
Psikolog menjelaskan bahwa mendengarkan lagu sedih dapat membantu seseorang memvalidasi emosinya. Ketika mendengar lirik yang sesuai dengan apa yang dirasakan, seseorang akan merasa lebih dipahami. Proses ini dikenal sebagai katarsis, yakni pelepasan emosi yang membuat perasaan menjadi lebih lega.
Tak hanya itu, ada pula fenomena yang disebut sadness paradox. Meski terdengar menyedihkan, musik melankolis justru dapat memberikan rasa nyaman. Saat mendengarkan lagu sedih, otak merespons dengan melepaskan hormon yang membantu seseorang merasa lebih tenang setelah mengalami emosi negatif.
Selain faktor psikologis, budaya masyarakat Indonesia juga ikut memengaruhi kebiasaan ini. Tidak sedikit orang yang masih merasa canggung atau enggan menceritakan masalah pribadinya secara terbuka. Akibatnya, lagu galau menjadi media yang aman untuk meluapkan emosi tanpa harus bercerita kepada orang lain.
Hal ini membuat lagu galau bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga teman untuk menemani seseorang saat merasa sedih, kecewa, atau sekadar ingin merenung.
Baca Juga: Feed Kosong, Tapi Tetap Aktif? Zero Posting Mulai Banyak Dipilih Gen Z
Menariknya, banyak orang tetap menikmati lagu galau meski sedang bahagia. Bagi sebagian pendengar, musik sedih justru menjadi ruang refleksi diri, membantu memahami perasaan, bahkan membuat mereka lebih menghargai momen-momen dalam hidup.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa popularitas lagu galau di Indonesia bukan terjadi tanpa alasan. Di balik lirik yang menyayat hati, tersimpan fungsi lain yang lebih dalam, yakni membantu seseorang mengenali, menerima, dan mengelola emosinya. Mungkin itulah sebabnya, lagu-lagu galau selalu memiliki tempat di hati masyarakat Indonesia, bahkan ketika mereka sedang tidak sedang patah hati.
Editor : Kabun Triyatno