RADARSOLO.COM - Pernah nggak, kamu tiba-tiba membayangkan jadi orang paling sukses, bertemu idola, balikan sama mantan, atau bahkan membuat percakapan yang sebenarnya nggak pernah terjadi saat mau tidur?
Kalau jawabannya pernah, tenang saja. Kebiasaan membuat fake scenario sebelum tidur ternyata cukup umum dialami banyak orang dan bukan sekadar "halu" semata.
Dalam dunia psikologi, kebiasaan ini berkaitan dengan proses otak saat memasuki hypnagogic state, yaitu fase peralihan dari kondisi sadar menuju tidur. Pada fase ini, tubuh mulai rileks, gangguan dari luar berkurang, dan pikiran bawah sadar menjadi lebih aktif. Kondisi inilah yang membuat imajinasi terasa lebih hidup dibandingkan biasanya.
Lalu, kenapa kita sering membuat cerita sendiri sebelum tidur?
Salah satu alasannya adalah karena otak sedang mencari cara untuk beristirahat. Setelah seharian dipenuhi tugas, pekerjaan, atau berbagai masalah, membayangkan cerita yang menyenangkan bisa membantu mengalihkan pikiran dari rasa cemas. Hasilnya, tubuh menjadi lebih rileks dan lebih mudah terlelap.
Selain itu, membuat fake scenario juga bisa memberi rasa memiliki kendali. Di dunia nyata, kita tidak selalu bisa mengatur apa yang terjadi. Tapi di dalam imajinasi, kita bebas menentukan jalan cerita, memilih akhir yang diinginkan, bahkan menjadi versi terbaik dari diri sendiri.
Ada juga yang sering memutar ulang kejadian yang sudah lewat. Misalnya, membayangkan bisa memberikan jawaban yang lebih keren saat berdebat, mendapat apresiasi dari orang lain, atau memperbaiki momen yang sebelumnya terasa mengecewakan. Tanpa disadari, cara ini membantu otak memberikan rasa lega secara emosional.
Bukan hanya itu, psikolog juga menyebut kebiasaan ini sebagai bentuk mental rehearsal atau latihan mental. Otak seolah sedang "berlatih" menghadapi situasi yang mungkin terjadi di masa depan, seperti presentasi, wawancara kerja, atau mengungkapkan perasaan kepada seseorang. Latihan mental seperti ini dipercaya dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri ketika situasi tersebut benar-benar terjadi.
Bagi sebagian orang, fake scenario yang dibuat juga terasa sangat nyata layaknya adegan film. Hal ini bisa berkaitan dengan hyperphantasia, yaitu kemampuan seseorang untuk membayangkan gambar, suasana, atau alur cerita dengan sangat jelas. Kondisi ini bukan gangguan mental, melainkan kemampuan visualisasi yang dimiliki sebagian orang.
Meski begitu, kebiasaan ini tetap perlu diperhatikan. Jika kamu sampai menghabiskan waktu berjam-jam tenggelam dalam imajinasi hingga sulit tidur atau aktivitas sehari-hari mulai terganggu, kondisi tersebut bisa mengarah pada maladaptive daydreaming. Berbeda dengan berkhayal biasa, kondisi ini dapat membuat seseorang sulit mengendalikan imajinasinya dan berdampak pada kualitas hidup.
Jadi, kalau kamu sering bikin fake scenario sebelum tidur, nggak perlu langsung menganggap diri aneh. Kebiasaan ini ternyata cukup umum dan memang punya penjelasan dalam dunia psikologi. Selama tidak sampai mengganggu waktu tidur atau aktivitas sehari-hari, hal ini masih tergolong wajar.
Editor : Kabun Triyatno