RADARSOLO.COM - Selama beberapa tahun terakhir, K-pop menjadi salah satu genre musik yang paling digemari masyarakat Indonesia. Lagu-lagu dari BTS, BLACKPINK, SEVENTEEN, hingga NewJeans pernah mendominasi tangga lagu, media sosial, bahkan menjadi bagian dari gaya hidup para penggemarnya. Akan tetapi, belakangan muncul fenomena yang cukup menarik. Musik lokal mulai mengambil alih perhatian pendengar Indonesia.
Hal ini ramai diperbincangkan setelah hasil survei Jakpat menunjukkan bahwa 74 persen responden bergabung dengan fanbase musisi lokal, sementara penggemar K-pop berada di angka 40 persen. Di saat yang sama, lagu-lagu musisi Indonesia juga semakin mendominasi tangga lagu di berbagai platform streaming.
Tidak hanya itu, berdasarkan data Spotify Daily Chart yang diunggah akun X @/tsurezure_lab, menunjukkan bahwa dominasi musik K-Pop di Spotify Indonesia mulai menurun seiring menguatnya popularitas musisi lokal di chart harian. Kejadian serupa juga terlihat di negara Asia Tenggara lain, seperti Malaysia, Thailand, dan Filipina.
Meski begitu, kondisi tersebut bukan berarti K-pop kehilangan penggemarnya. Justru yang sedang terjadi adalah perubahan preferensi pendengar. Musik lokal berkembang sangat pesat sehingga persaingan di industri musik Indonesia menjadi semakin seimbang.
Salah satu penyebabnya adalah kualitas musik Indonesia yang terus meningkat. Beberapa tahun terakhir, nama-nama seperti Bernadya, Hindia, Juicy Luicy, Sal Priadi, Nadin Amizah, hingga Tulus berhasil menghadirkan karya yang dekat dengan pengalaman sehari-hari pendengar. Lirik yang mudah dipahami serta tema yang relevan membuat lagu-lagu mereka lebih mudah diterima oleh berbagai kalangan.
Selain itu, algoritma platform streaming juga ikut berperan. Ketika seseorang mulai sering mendengarkan lagu Indonesia, aplikasi akan terus memberikan rekomendasi lagu dengan karakter serupa. Akibatnya, musik lokal semakin sering muncul dalam playlist pengguna dan memperluas jangkauan pendengarnya.
Di sisi lain, industri K-pop juga menghadapi tantangan baru. Setiap tahun puluhan grup baru melakukan debut, disertai comeback dari grup-grup yang sudah lebih dulu populer. Banyaknya konten membuat pendengar kasual kesulitan mengikuti perkembangan semua idol. Tidak sedikit yang akhirnya memilih menikmati musik tanpa harus mengikuti aktivitas fandom secara intens.
Baca Juga: Pinjam Buku di Perpustakaan Wonogiri Bisa Diantar Ojol, Begini Caranya
Faktor usia juga turut memengaruhi. Penggemar K-pop generasi kedua dan ketiga yang dulu aktif mengikuti setiap perilisan album kini banyak yang telah memasuki dunia kerja atau memiliki kesibukan lain. Waktu untuk mengikuti berbagai konten, konser, maupun siaran langsung idol pun menjadi lebih terbatas.
Meski demikian, bukan berarti K-pop sedang mengalami kemunduran. Spotify bahkan menegaskan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu pasar terbesar K-pop di dunia. Artinya, basis penggemar K-pop tetap sangat kuat. Yang berubah adalah dominasi genre tersebut di tengah pesatnya pertumbuhan musik lokal.
Kondisi ini menunjukkan bahwa industri musik Indonesia sedang berada dalam masa yang sangat kompetitif. Pendengar kini memiliki lebih banyak pilihan dengan kualitas yang sama-sama baik. Persaingan tersebut justru menjadi tanda bahwa industri musik terus berkembang dan memberi ruang bagi berbagai genre untuk tumbuh bersama.
Editor : Kabun Triyatno