RADARSOLO.COM - Alarm sudah dipasang untuk besok pagi. Mata sebenarnya mulai terasa berat, tetapi tangan masih terus menggulir layar ponsel. Satu video berubah menjadi sepuluh, lalu berganti membaca media sosial, membalas pesan, hingga tanpa sadar waktu menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Meski tahu harus segera tidur, banyak orang justru sulit meletakkan ponselnya.
Fenomena ini dikenal dengan istilah revenge bedtime procrastination atau balas dendam terhadap waktu tidur. Meski namanya terdengar unik, istilah ini tidak berarti seseorang sengaja ingin menyiksa dirinya dengan begadang. Sebaliknya, perilaku tersebut muncul ketika seseorang menunda waktu tidur demi memperoleh waktu luang yang dirasa tidak didapatkan sepanjang hari.
Baca Juga: Kenapa Lidah Sering Keseleo Saat Bicara? Psikolinguistik Punya Jawabannya
Istilah ini pertama kali populer di media sosial dan kemudian banyak dibahas dalam kajian psikologi. Revenge bedtime procrastination bukan merupakan diagnosis medis, melainkan istilah untuk menggambarkan kebiasaan seseorang yang secara sadar menunda tidur, meskipun mengetahui bahwa dirinya harus bangun lebih awal keesokan harinya.
Kebiasaan ini banyak dialami oleh pekerja kantoran, mahasiswa, maupun siapa saja yang memiliki aktivitas padat sejak pagi hingga sore. Setelah seharian disibukkan dengan pekerjaan, kuliah, rapat, tugas, atau tanggung jawab lainnya, malam hari menjadi satu-satunya waktu yang terasa benar-benar dimiliki untuk diri sendiri.
Baca Juga: Sering Bikin Fake Scenario Sebelum Tidur? Ternyata Otak Punya Alasannya Sendiri
Akibatnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat justru dihabiskan dengan melakukan hal-hal yang menyenangkan, seperti menonton serial, bermain gim, membaca komik digital, atau sekadar menggulir media sosial tanpa tujuan tertentu.
Aktivitas tersebut memberikan rasa bebas dan menjadi semacam "hadiah" setelah menjalani hari yang melelahkan.
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Frontiers in Psychology, revenge bedtime procrastination berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam mengendalikan diri (self-control) serta tingkat stres yang dialami sepanjang hari.
Ketika energi mental sudah terkuras akibat berbagai tuntutan, kemampuan untuk mengambil keputusan yang baik termasuk keputusan untuk segera tidur ikut menurun. Akibatnya, godaan untuk terus menikmati waktu luang menjadi semakin besar.
Baca Juga: Istirahat Lima Menit Bukan Berarti Malas, Justru Bisa Bikin Lebih Produktif
Di sisi lain, penggunaan media sosial juga membuat kebiasaan ini semakin sulit dihentikan. Beragam konten yang terus diperbarui membuat seseorang merasa selalu ada hal menarik yang bisa dilihat. Tanpa disadari, niat awal membuka ponsel selama lima menit dapat berubah menjadi satu atau bahkan dua jam.
Padahal, kurang tidur dapat berdampak pada kesehatan maupun produktivitas. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebutkan bahwa orang dewasa umumnya membutuhkan waktu tidur sekitar tujuh jam atau lebih setiap malam. Tidur yang kurang dari kebutuhan secara terus-menerus dapat memengaruhi konsentrasi, suasana hati, daya ingat, hingga meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan.
Bukan berarti seseorang tidak boleh menikmati waktu luang pada malam hari. Namun, jika waktu tersebut selalu "diambil" dari jam tidur, tubuh justru tidak memiliki kesempatan yang cukup untuk memulihkan diri. Alih-alih merasa lebih segar, seseorang akan bangun dalam kondisi lelah dan mengulang siklus yang sama pada malam berikutnya.
Untuk mengurangi revenge bedtime procrastination, para ahli menyarankan beberapa langkah sederhana, seperti menetapkan jam tidur yang konsisten, mengurangi paparan layar sekitar 30–60 menit sebelum tidur, serta menyediakan waktu untuk melakukan aktivitas yang disukai di sela-sela kesibukan siang hari. Dengan begitu, kebutuhan untuk "membalas dendam" terhadap waktu yang hilang pada malam hari dapat berkurang.
Pada akhirnya, keinginan menikmati waktu untuk diri sendiri merupakan hal yang wajar. Namun, waktu istirahat juga merupakan kebutuhan yang tidak kalah penting. Menemukan keseimbangan antara keduanya menjadi kunci agar tubuh tetap sehat, pikiran lebih segar, dan aktivitas keesokan harinya dapat dijalani dengan lebih optimal.
Editor : Kabun Triyatno