Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

Red String Theory, Benang Merah Takdir yang Diyakini Mempertemukan Dua Orang

Annas Rohmanda Purbaningrum • Kamis, 16 Juli 2026 | 13:30 WIB
Gambar: Pinterest
Gambar: Pinterest

RADARSOLO.COM - Dua orang yang terus dipertemukan, meski berkali-kali terpisah oleh waktu dan keadaan, sering dianggap sebagai bukti adanya benang merah takdir. Gagasan inilah yang dikenal sebagai Red String Theory, sebuah kepercayaan yang telah hidup dalam budaya Asia Timur selama berabad-abad.

Meski kerap disebut sebagai "teori", Red String Theory sebenarnya bukanlah teori ilmiah. Konsep ini merupakan mitos yang berasal dari cerita rakyat Asia Timur, khususnya Tiongkok dan Jepang. Dalam kepercayaan tersebut, dua orang yang memang ditakdirkan memiliki hubungan akan dihubungkan oleh benang merah yang tidak terlihat.

Baca Juga: Acuh Bukan Berarti Tidak Peduli, Ini 6 Kata yang Sering Salah Dipahami

Menurut legenda Tiongkok, benang merah itu diikat oleh Yue Lao, dewa perjodohan yang dipercaya menentukan takdir pertemuan antarmanusia. Benang tersebut diyakini dapat meregang, kusut, atau terlilit, tetapi tidak akan pernah putus. Oleh karena itu, dua orang yang telah dihubungkan oleh benang merah dipercaya akan tetap menemukan jalan untuk bertemu, meski dipisahkan oleh jarak, waktu, maupun berbagai rintangan.

Kepercayaan serupa juga dikenal di Jepang dengan istilah Akai Ito yang berarti "benang merah". Dalam budaya populer, benang ini sering digambarkan terikat pada jari kelingking dua orang yang memiliki ikatan takdir.

Baca Juga: "Maaf" atau "Mohon Maaf"? Sekilas Mirip, Ternyata Maknanya Tidak Selalu Sama

Meski identik dengan kisah percintaan, Red String Theory tidak selalu dimaknai sebagai hubungan romantis. Sebagian orang percaya bahwa benang merah juga dapat menghubungkan sahabat, anggota keluarga, atau siapa pun yang memiliki peran penting dalam perjalanan hidup seseorang.

Sayangnya, hingga saat ini tidak ada bukti ilmiah yang mendukung keberadaan benang merah tak kasatmata tersebut. Red String Theory lebih tepat dipahami sebagai bagian dari mitologi dan simbol budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

 

Editor : Kabun Triyatno
Red String Theory Takdir benang merah kepercayaan