Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Gaya Hidup Photo

Mengapa Warna Merah Selalu Identik dengan Diskon? Ternyata Ada Alasannya

Inayah Choirunisa • Kamis, 16 Juli 2026 | 17:00 WIB
Gambar: Pinterest
Gambar: Pinterest

RADARSOLO.COM - Pernahkah Anda memperhatikan bahwa hampir setiap toko memasang tulisan "Diskon", "Sale", atau "Cuci Gudang" dengan warna merah? Baik di pusat perbelanjaan, minimarket, toko daring, hingga unggahan media sosial, warna merah hampir selalu menjadi pilihan utama untuk menarik perhatian calon pembeli.

Bahkan, banyak orang secara spontan mengaitkan warna merah dengan potongan harga. Saat melihat tulisan berwarna merah terpampang di etalase atau layar ponsel, tidak sedikit yang langsung mengira sedang ada promo, meskipun belum membaca isi informasinya.

Lantas, mengapa warna merah begitu identik dengan diskon?

Baca Juga: Satpol PP Sapu Bersih Pasar Gede, PKL hingga Parkir Liar Jadi Sasaran

Salah satu alasannya berkaitan dengan cara kerja otak manusia dalam memproses warna. Dibandingkan warna lain, merah termasuk warna yang paling cepat menarik perhatian mata. Warna ini memiliki panjang gelombang yang lebih tinggi dibandingkan sebagian besar warna lain sehingga lebih mudah terlihat, terutama ketika dipadukan dengan latar belakang putih atau warna-warna netral.

Dalam dunia pemasaran, kemampuan tersebut dimanfaatkan untuk membuat suatu informasi lebih menonjol dibandingkan elemen lain di sekitarnya. Ketika seseorang berjalan melewati deretan toko atau menggulir layar ponsel, tulisan berwarna merah cenderung lebih cepat tertangkap oleh pandangan.

Baca Juga: Museum Sains Solo Hampir Rampung, Siap Jadi Ikon Wisata Edukasi

Selain mudah terlihat, warna merah juga sering dikaitkan dengan rasa mendesak atau urgensi. Itulah sebabnya, banyak toko menggunakan warna merah pada tulisan seperti "Promo Hari Ini", "Stok Terbatas", atau "Flash Sale". Tanpa disadari, warna tersebut dapat memunculkan kesan bahwa kesempatan tersebut tidak akan berlangsung lama sehingga mendorong seseorang untuk segera mengambil keputusan.

Fenomena ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, ketika sedang membuka aplikasi belanja daring. Di antara puluhan produk yang ditampilkan, label potongan harga hampir selalu dibuat dengan warna merah. Angka persentase diskon, harga yang dicoret, hingga tombol promo juga didominasi warna serupa.

Hal yang sama dapat ditemukan ketika berbelanja di supermarket. Produk yang sedang mendapat potongan harga biasanya diberi label merah, sementara produk dengan harga normal menggunakan warna yang lebih netral. Akibatnya, perhatian pembeli akan lebih dahulu tertuju pada produk yang memiliki label merah tersebut.

Tidak hanya di dunia belanja, warna merah juga sering digunakan untuk menyampaikan informasi yang dianggap penting. Lampu lalu lintas menggunakan warna merah sebagai tanda berhenti, tombol darurat dibuat berwarna merah, begitu pula berbagai tanda peringatan di tempat umum. Penggunaan yang terus-menerus ini membuat masyarakat terbiasa mengaitkan warna merah dengan sesuatu yang perlu segera diperhatikan.

Meski demikian, bukan berarti setiap warna merah selalu bertujuan meningkatkan penjualan. Makna warna juga dipengaruhi oleh budaya dan konteks penggunaannya. Di Indonesia, merah identik dengan semangat, keberanian, dan energi. Di beberapa negara Asia, seperti Tiongkok, merah bahkan melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, dan kemakmuran sehingga sering digunakan dalam berbagai perayaan.

Dalam dunia pemasaran, para pelaku usaha memanfaatkan berbagai makna tersebut untuk membangun respons emosional konsumen. Warna tidak hanya berfungsi sebagai elemen visual, tetapi juga menjadi bagian dari strategi komunikasi. Tanpa perlu membaca seluruh informasi, seseorang dapat menangkap pesan bahwa sebuah produk sedang dipromosikan hanya dari dominasi warna merah pada tampilannya.

Meski begitu, konsumen tetap perlu bersikap bijak. Label merah atau tulisan "diskon besar" memang mampu menarik perhatian, tetapi bukan berarti setiap promo selalu menawarkan harga terbaik. Sebelum memutuskan membeli, ada baiknya tetap membandingkan harga, mempertimbangkan kebutuhan, dan tidak mudah tergoda hanya karena warna yang mencolok.

Jadi, jika lain kali Anda tanpa sadar langsung melirik tulisan merah bertuliskan "Diskon 50 Persen", kemungkinan besar bukan sekadar kebetulan. Ada strategi pemasaran dan cara kerja psikologi warna yang membuat mata kita lebih cepat menangkapnya dibandingkan informasi lain di sekitarnya.

Editor : Kabun Triyatno
warna produk strategi harga visual