RADARSOLO.COM - Pernah nggak, awalnya lagi menjalani hari seperti biasa tapi setelah beberapa menit scroll TikTok dan mendengar lagu-lagu sedih, tiba-tiba suasana hati ikut berubah? Padahal sebelumnya tidak sedang memikirkan apa pun. Sebaliknya, lagu-lagu bertema jatuh cinta juga bisa membuat seseorang ikut berbunga-bunga, meski sedang tidak punya pasangan.
Kalau pernah mengalaminya, kamu tidak sendirian. Lagu memang punya cara unik untuk memengaruhi perasaan kita.
Baca Juga: 10 Lagu Grup K-Pop HYBE yang Cocok Masuk Playlist Workout, Dijamin Bikin Semangat Latihan!
Saat mendengarkan musik, otak bukan hanya menerima liriknya. Tempo, melodi, ritme, hingga cara penyanyi menyampaikan sebuah lagu ikut membangun suasana tertentu. Bahkan tanpa memahami arti liriknya, kita sering kali tetap bisa menebak apakah lagu tersebut terdengar sedih, bahagia, menegangkan, atau penuh semangat.
Baca Juga: Kenapa Orang Indonesia Suka Dengerin Lagu Galau? Ternyata Bukan Cuma Soal Patah Hati
Sebab itu, lagu sering kali mampu "menulari" emosi pendengarnya. Dalam penelitian, hal ini dikenal sebagai emotional contagion, yaitu ketika seseorang ikut merasakan emosi yang diekspresikan melalui musik. Lagu dengan tempo pelan dan melodi sendu lebih mudah membuat pendengar merasa tenang atau melankolis, sedangkan lagu dengan irama cepat cenderung membangkitkan semangat dan energi.
Bukan hanya itu, lagu juga sering menjadi penghubung dengan kenangan. Pernah tiba-tiba teringat masa sekolah hanya karena mendengar lagu yang dulu sering diputar di kelas? Atau mendadak mengingat seseorang setelah sebuah lagu muncul di FYP? Itu terjadi karena otak menyimpan pengalaman bersama berbagai hal yang menyertainya, termasuk musik. Ketika lagu tersebut diputar lagi, kenangan yang pernah melekat padanya ikut muncul kembali.
Lalu, kenapa setelah beberapa video galau di TikTok kita bisa ikut merasa sedih?
Baca Juga: Kenapa Lagu Bisa Muter Terus di Kepala? Ternyata Ada Fenomena Bernama Earworm
Salah satu penyebabnya adalah algoritma media sosial. Ketika kita berhenti lebih lama di video dengan lagu tertentu atau menontonnya sampai selesai, algoritma menganggap kita menyukai konten tersebut. Akibatnya, video lain dengan lagu dan suasana yang mirip akan lebih sering muncul di beranda.
Semakin sering kita mendengar lagu bernuansa sedih dan melihat konten dengan tema yang sama, semakin besar pula kemungkinan suasana hati ikut terbawa. Bukan berarti algoritma membuat seseorang menjadi galau, tetapi paparan emosi yang terus berulang bisa memengaruhi bagaimana kita merasakan sesuatu saat itu.
Baca Juga: Hafal Lirik Lagu, Lupa Isi Buku? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Meski begitu, setiap orang bisa memberikan respons yang berbeda terhadap lagu yang sama. Ada yang langsung terharu ketika mendengar sebuah lagu karena mengingat pengalaman tertentu, sementara orang lain mungkin merasa biasa saja. Semua bergantung pada pengalaman hidup, kenangan, dan kondisi emosional masing-masing.
Itulah mengapa musik terasa lebih dari sekadar kumpulan nada dan lirik. Sebuah lagu bisa menemani kita saat bahagia, menjadi tempat untuk mengenang masa lalu, atau bahkan mengubah suasana hati hanya dalam beberapa menit. Jadi, kalau suatu hari kamu merasa awalnya baik-baik saja tetapi tiba-tiba ikut galau karena FYP dipenuhi lagu sedih, bisa jadi yang bekerja bukan hanya algoritma, melainkan juga cara otak merespons musik yang sedang kamu dengarkan.
Editor : Kabun Triyatno