Kenapa Kata Blunder Sering Dipakai Warganet? Ternyata Maknanya Makin Luas

Annas Rohmanda Purbaningrum • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 09:00 WIB
Ilustrasi Penggunaan Kata "Blunder" di Media Sosial. (AI Generated)
Ilustrasi Penggunaan Kata "Blunder" di Media Sosial. (AI Generated)

RADARSOLO.COM - Kata “blunder” kini semakin sering muncul di media sosial. Mulai dari salah mengunggah foto, keliru menyebut nama seseorang, salah mengirim pesan, hingga keputusan seorang publik figur yang menuai kritik, semuanya kerap disebut sebagai blunder. Padahal, jika merujuk pada makna awalnya, tidak semua kesalahan bisa disebut demikian.

Dalam bahasa Inggris, blunder merujuk pada kesalahan serius yang terjadi akibat kecerobohan, kurangnya pertimbangan, atau kebingungan. Kesalahan tersebut umumnya membawa dampak yang cukup besar, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Karena itu, istilah blunder sejak lama lebih akrab digunakan dalam dunia olahraga, militer, maupun politik untuk menggambarkan kekeliruan yang berujung pada konsekuensi penting.

Baca Juga: Sulit Diterjemahkan, Bahasa Jawa Punya Istilah yang Sangat Spesifik untuk Situasi Sehari-hari

Misalnya, seorang kiper yang gagal mengantisipasi bola hingga lawan mencetak gol sering disebut melakukan blunder. Begitu pula seorang pecatur yang membuat satu langkah keliru hingga kehilangan peluang menang. Dalam konteks seperti ini, blunder bukan sekadar salah, tetapi kesalahan yang mengubah jalannya keadaan.

Akan tetapi, penggunaan kata blunder di media sosial kini jauh lebih beragam. Warganet menggunakannya untuk menyebut berbagai jenis kekeliruan, mulai dari salah mengetik, salah memilih pakaian untuk suatu acara, keliru mengunggah konten, hingga momen-momen yang dianggap memalukan. Kesalahan yang sebenarnya tidak membawa dampak besar pun sering kali diberi label blunder.

Baca Juga: Apa Itu Drag Path? Tren TikTok yang Berawal dari Jejak Perjuangan dan Berkembang Menjadi Simbol Kenangan

Dalam ilmu linguistik, gejala seperti ini dapat dipahami sebagai perluasan makna (generalisasi). Perluasan makna terjadi ketika sebuah kata yang semula digunakan dalam konteks tertentu mulai dipakai dalam konteks yang lebih luas, tanpa menghilangkan makna aslinya.

Artinya, makna blunder sebagai "kesalahan besar" masih tetap digunakan, misalnya dalam berita olahraga atau politik. Namun, di saat yang sama, masyarakat juga memakainya untuk menyebut berbagai bentuk kekeliruan dalam kehidupan sehari-hari. Cakupan penggunaannya menjadi lebih luas dibandingkan sebelumnya.

Baca Juga: Nggak Langsung Jatuh Cinta, Justru Ini yang Bikin Hubungan Slow Burn Terasa Spesial

Perubahan cara masyarakat menggunakan kata-kata tersebut menunjukkan bahwa bahasa bersifat dinamis. Seiring waktu, makna sebuah kata dapat berkembang mengikuti kebutuhan komunikasi para penuturnya. Selama makna baru itu dipahami oleh banyak orang, penggunaannya pun perlahan menjadi bagian dari kebiasaan berbahasa.

Oleh karena itu, saat membaca komentar "blunder banget" di media sosial, yang dimaksud sering kali bukan lagi kesalahan fatal seperti dalam pertandingan sepak bola atau keputusan penting, melainkan berbagai kekeliruan yang dianggap memalukan atau mengundang perhatian. Di sinilah terlihat bahwa bahasa tidak hanya hidup di dalam kamus, tetapi juga terus berkembang melalui cara masyarakat menggunakannya setiap hari.

 

Editor : Kabun Triyatno
semantik generalisasi media sosial makna Blunder