RADARSOLO.COM - Hampir semua orang di Indonesia pernah mendengar istilah jam karet. Ungkapan ini biasanya digunakan untuk menggambarkan waktu yang tidak pasti atau kebiasaan datang terlambat dari waktu yang telah disepakati. Misalnya, ketika sebuah acara dijadwalkan dimulai pukul 09.00, tetapi baru benar-benar berlangsung setengah jam kemudian, tidak sedikit orang yang akan berkomentar, "Ah, pakai jam karet."
Meski sudah sangat akrab dalam percakapan sehari-hari, pernahkah Anda bertanya mengapa disebut jam karet? Padahal, jam yang digunakan tentu bukan terbuat dari karet.
Baca Juga: Kenapa Sih Emoji Baru Muncul Tiap Tahun? Ini Rahasianya!
Istilah tersebut merupakan salah satu contoh metafora dalam bahasa Indonesia. Metafora adalah gaya bahasa yang menggunakan suatu kata atau ungkapan untuk mewakili makna lain berdasarkan kesamaan sifat atau karakteristik tertentu.
Pada ungkapan jam karet, kata karet dipilih karena memiliki sifat lentur dan dapat ditarik memanjang. Sifat inilah yang kemudian dianalogikan dengan waktu yang terasa "melar" atau tidak tetap. Akibatnya, istilah jam karet tidak lagi dipahami sebagai jam berbahan karet, melainkan sebagai simbol waktu yang dapat berubah-ubah atau tidak ditepati secara ketat.
Karena telah digunakan secara luas selama bertahun-tahun, sebagian besar masyarakat langsung memahami makna tersebut tanpa perlu memikirkan arti harfiahnya. Inilah salah satu kekuatan metafora dalam bahasa: menyampaikan makna yang kompleks melalui ungkapan yang sederhana dan mudah diingat.
Baca Juga: Lama Nggak Dengar Kata Ini? 8 Istilah yang Pernah Akrab, Kini Mulai Menghilang
Menariknya, bahasa Indonesia memiliki banyak metafora lain yang juga sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satunya adalah kambing hitam. Ungkapan ini dipakai untuk menyebut seseorang yang dijadikan pihak yang disalahkan atas suatu peristiwa, meskipun belum tentu ia merupakan penyebab utamanya. Tentu saja, istilah tersebut tidak ada hubungannya dengan seekor kambing berwarna hitam. Maknanya telah bergeser menjadi simbol bagi pihak yang menanggung kesalahan.
Ada pula istilah meja hijau. Ketika seseorang mengatakan sebuah perkara "dibawa ke meja hijau", yang dimaksud bukanlah meja berwarna hijau secara harfiah. Ungkapan ini merujuk pada proses penyelesaian perkara melalui pengadilan. Istilah tersebut dipercaya berasal dari penggunaan kain hijau yang dahulu menutupi meja hakim di ruang sidang.
Baca Juga: Duduk Lama di Depan Laptop tapi Ide Nggak Muncul? Bisa Jadi Kamu Lagi Creative Block
Metafora juga dapat ditemukan pada ungkapan naik daun. Secara harfiah, daun memang tumbuh ke arah atas. Namun, dalam bahasa Indonesia, naik daun berarti seseorang atau sesuatu yang sedang populer, banyak dibicarakan, atau mengalami peningkatan popularitas.
Contoh lain adalah buah tangan yang berarti oleh-oleh, kepala dingin untuk menggambarkan seseorang yang tetap tenang dalam menghadapi masalah, serta panjang tangan yang justru bermakna suka mencuri, bukan memiliki tangan yang benar-benar panjang.
Keberadaan metafora membuat bahasa menjadi lebih hidup dan ekspresif. Dengan menggunakan satu ungkapan, penutur dapat menyampaikan makna yang lebih luas dibandingkan jika harus menjelaskannya secara panjang lebar.
Dalam kajian linguistik, metafora bukan hanya dipandang sebagai gaya bahasa dalam karya sastra. Metafora juga menjadi bagian dari cara manusia berpikir dan memahami dunia. Melalui pengalaman sehari-hari, masyarakat menghubungkan suatu konsep dengan konsep lain yang dianggap memiliki kesamaan sifat, kemudian hubungan tersebut berkembang menjadi ungkapan yang dipahami bersama.
Karena itulah, seseorang yang baru belajar bahasa Indonesia sering kali merasa kebingungan ketika menemukan ungkapan seperti jam karet atau kambing hitam. Jika diterjemahkan kata demi kata ke bahasa lain, maknanya justru bisa berbeda atau bahkan terdengar aneh. Untuk memahaminya, seseorang perlu mengetahui konteks budaya yang melatarbelakangi lahirnya ungkapan tersebut.
Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar kumpulan kosakata, melainkan juga cerminan cara berpikir dan pengalaman masyarakat. Di balik ungkapan yang terdengar sederhana seperti jam karet, tersimpan kreativitas penutur bahasa dalam menggambarkan suatu keadaan melalui perumpamaan yang mudah dipahami dan terus digunakan hingga sekarang.
Editor : Kabun Triyatno