RADARSOLO.COM – Emoji sering dianggap sebagai "bahasa universal" di era digital. Tak perlu menerjemahkan kata-kata, seseorang bisa mengirim emoji 😊, ❤️, atau 👍 dan berharap lawan bicara langsung memahami maksudnya. Namun, benarkah semua orang menafsirkan emoji dengan cara yang sama?
Jawabannya ternyata tidak. Meski bentuknya sama, makna sebuah emoji bisa berbeda tergantung negara, budaya, hingga kebiasaan masyarakat yang menggunakannya. Perbedaan ini menjadi salah satu alasan mengapa emoji terkadang justru memicu salah paham dalam komunikasi digital.
Baca Juga: Mengapa Nama Hari dalam Bahasa Indonesia Banyak Berasal dari Bahasa Arab?
Salah satu contoh yang paling sering dibahas adalah emoji 🙏. Di Indonesia, emoji ini umumnya digunakan untuk menunjukkan doa, rasa syukur, ucapan terima kasih, atau permintaan maaf. Di Jepang, maknanya juga dekat dengan ungkapan terima kasih atau permohonan maaf yang disampaikan dengan sopan.
Namun, ketika emoji tersebut mulai populer di berbagai negara, muncul tafsiran lain. Tidak sedikit pengguna yang menganggapnya sebagai gerakan high five atau tos dua tangan. Meski Unicode Consortium menjelaskan bahwa emoji ini diberi nama Folded Hands, perbedaan sudut pandang budaya membuat maknanya berkembang di luar definisi awal.
Contoh lain adalah emoji 🙆. Bagi banyak orang di Jepang, gerakan kedua tangan yang membentuk lingkaran di atas kepala merupakan simbol "OK" atau "semuanya baik-baik saja". Akan tetapi, di berbagai negara lain, emoji ini lebih sering dipahami sebagai seseorang yang sedang meregangkan badan, menari, atau sekadar mengangkat tangan.
Ada pula emoji 💮 yang mungkin jarang digunakan oleh masyarakat Indonesia. Di Jepang, simbol bunga putih ini memiliki makna khusus. Emoji tersebut biasa dipakai guru untuk menandai jawaban yang benar atau pekerjaan yang sangat baik, mirip dengan tanda bintang pada buku pelajaran. Sementara itu, banyak pengguna di luar Jepang tidak mengetahui makna tersebut sehingga menganggapnya hanya sebagai gambar bunga biasa.
Perbedaan juga terlihat pada emoji 🍙, yaitu rice ball atau onigiri. Di Jepang, makanan ini sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari sehingga emoji tersebut mudah dikenali. Namun, bagi pengguna dari negara yang tidak memiliki budaya makan onigiri, simbol itu bisa saja dianggap sebagai nasi biasa, batu, atau makanan lain yang bentuknya mirip.
Tak hanya dipengaruhi budaya, makna emoji juga berubah mengikuti perkembangan komunitas digital. Emoji 💀, misalnya, secara harfiah berarti tengkorak. Namun, di media sosial, terutama di kalangan Generasi Z, emoji ini justru sering dipakai untuk menyatakan "tertawa sampai mati" atau sesuatu yang sangat lucu. Sementara emoji 🤡 yang awalnya menggambarkan badut kini sering digunakan untuk menyindir seseorang yang merasa dirinya telah melakukan hal konyol atau mudah dibohongi.
Dilansir dari buku The Semiotics of Emoji karya Marcel Danesi, emoji merupakan tanda visual yang maknanya dibentuk oleh konteks sosial dan budaya. Artinya, sebuah emoji tidak memiliki arti yang benar-benar tetap. Maknanya terus berkembang mengikuti cara masyarakat menggunakannya.
Temuan serupa juga diungkapkan dalam penelitian yang diterbitkan di Frontiers in Psychology.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa tingkat kesepakatan terhadap makna emoji berbeda-beda. Beberapa emoji memang dipahami secara relatif sama oleh banyak orang, tetapi tidak sedikit yang memunculkan beragam interpretasi bergantung pada pengalaman dan latar belakang budaya penggunanya.
Karena itu, para ahli komunikasi digital menyarankan agar emoji tidak dijadikan satu-satunya cara untuk menyampaikan pesan, terutama dalam percakapan yang penting atau melibatkan orang dari latar belakang budaya berbeda. Menambahkan penjelasan melalui kata-kata dapat membantu mengurangi risiko kesalahpahaman.
Di tengah semakin terhubungnya masyarakat dunia melalui internet, emoji memang menjadi alat komunikasi yang praktis dan menarik. Namun, seperti halnya bahasa, simbol-simbol kecil ini juga dipengaruhi oleh budaya, kebiasaan, dan perkembangan zaman. Jadi, lain kali saat mengirim sebuah emoji, jangan heran jika orang di belahan dunia lain menangkap makna yang sedikit berbeda dari yang Anda maksud.
Editor : Kabun Triyatno