RADARSOLO.COM - Pernah nggak kamu merasa punya banyak target yang ingin dicapai tetapi sulit sekali untuk mulai mengerjakannya? Ingin rajin belajar, rutin olahraga, membangun bisnis, atau membuat konten, tetapi ujung-ujungnya malah rebahan sambil scrolling media sosial. Anehnya, rasa bersalah tetap ada karena kamu tahu ada banyak hal yang seharusnya bisa dikerjakan.
Kalau situasi itu terdengar familiar, kamu tidak sendirian. Belakangan ini, media sosial ramai membahas istilah lazy ambitious untuk menggambarkan kondisi tersebut. Banyak pengguna TikTok hingga X mengaku merasa sangat relate karena mereka memiliki mimpi besar tetapi sering kehilangan semangat ketika harus menjalani prosesnya.
Meski begitu, perlu dipahami bahwa lazy ambitious bukanlah istilah resmi dalam dunia psikologi atau diagnosis kesehatan mental. Ini hanyalah sebutan populer yang muncul di internet untuk menggambarkan orang yang memiliki ambisi tinggi, tetapi kesulitan mempertahankan konsistensi dalam bertindak.
Baca Juga: Nggak Langsung Jatuh Cinta, Justru Ini yang Bikin Hubungan Slow Burn Terasa Spesial
Sekilas memang terdengar seperti "malas". Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Banyak orang yang merasa dirinya lazy ambitious justru sering memikirkan masa depan, menyusun rencana, bahkan memasang target yang tinggi. Tantangannya muncul ketika rencana tersebut harus diwujudkan melalui rutinitas yang panjang dan berulang.
Misalnya, seseorang ingin mendapatkan pekerjaan impian tetapi terus menunda memperbarui CV. Ada juga yang bercita-cita menjadi kreator konten, tetapi tidak pernah mengunggah video pertamanya karena merasa hasilnya belum cukup bagus. Di sisi lain, ada pula yang ingin hidup lebih sehat, tetapi selalu menunggu hari Senin untuk mulai berolahraga.
Baca Juga: Sering Berhenti di Tengah Buku? Jangan-Jangan Kamu Lagi Reading Slump
Fenomena ini sering berkaitan dengan kebiasaan prokrastinasi, yaitu menunda pekerjaan meskipun tahu pekerjaan tersebut penting. Selain itu, perfeksionisme juga bisa menjadi penyebabnya. Karena ingin hasil yang sempurna, seseorang justru takut memulai. Akibatnya, pekerjaan yang seharusnya bisa selesai sedikit demi sedikit malah terus tertunda.
Faktor lain seperti kelelahan setelah bekerja atau kuliah, terlalu banyak pilihan yang harus diputuskan, hingga tekanan untuk selalu produktif juga dapat membuat seseorang merasa kehilangan energi. Tidak heran jika banyak anak muda merasa berada dalam dilema: ingin berkembang, tetapi di saat yang sama merasa terlalu lelah untuk bergerak.
Baca Juga: Anomali Bisnis Jasa Layanan Anjem di Kampus UNS Solo: Dari Mahasiswa Untuk Mahasiswa
Kalau kamu merasa mengalami hal serupa, tidak perlu buru-buru menyimpulkan bahwa dirimu pemalas. Cobalah memulai dari target yang lebih kecil dan realistis. Daripada langsung menargetkan menyelesaikan semua pekerjaan dalam sehari, mulailah dengan satu tugas yang bisa diselesaikan dalam beberapa menit. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten biasanya jauh lebih efektif dibanding menunggu motivasi besar datang.
Editor : Kabun Triyatno