Emangnya Emoji Bisa Bohong? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Inayah Choirunisa • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 13:05 WIB
Layaknya senyum basa-basi, emoji sering dipakai demi sopan santun dan menjaga hubungan digital, bukan cuma cerminan emosi sebenarnya. Gambar: Pinterest.
Layaknya senyum basa-basi, emoji sering dipakai demi sopan santun dan menjaga hubungan digital, bukan cuma cerminan emosi sebenarnya. (Pinterest.

RADARSOLO.COM – Pernah membalas pesan dengan emoji 😊 padahal suasana hati sedang tidak baik-baik saja? Atau mengirim 😂 hanya karena ingin menghargai candaan teman, meski sebenarnya Anda tidak sampai tertawa? Bahkan, tidak sedikit orang yang menambahkan ❤️ atau 🙏 di akhir pesan kerja agar terdengar lebih sopan dan ramah.

Jika dipikir-pikir, emoji memang tidak selalu menggambarkan perasaan yang sebenarnya. Lantas, apakah emoji bisa "berbohong"?

Jawabannya, bisa saja. Namun, bukan karena emoji memiliki makna yang salah, melainkan karena manusia sering menggunakannya untuk tujuan tertentu dalam berkomunikasi. Sama seperti senyum saat bertemu orang lain, emoji juga bisa menjadi bentuk kesopanan, basa-basi, atau cara menjaga hubungan, bukan cerminan emosi yang sedang dirasakan.

Baca Juga: Lebih dari Sekadar "Jalan": Kaya Kata Bahasa Indonesia untuk Cara Berjalan

Dalam komunikasi tatap muka, seseorang tidak hanya menyampaikan pesan lewat kata-kata. Ekspresi wajah, intonasi suara, hingga gerakan tubuh ikut membantu menjelaskan maksud pembicaraan. Namun, saat berkomunikasi melalui pesan singkat, unsur-unsur nonverbal tersebut menghilang. Di sinilah emoji mengambil peran sebagai pengganti ekspresi.

Meski demikian, penggunaan emoji tidak selalu didasarkan pada perasaan yang sedang dialami. Misalnya, seseorang mungkin mengirim 😊 kepada rekan kerja setelah menerima tugas tambahan. Bukan karena ia benar-benar senang, tetapi agar balasan tidak terdengar ketus atau terkesan menolak.

Begitu pula emoji 😂 yang sering dipakai sebagai bentuk apresiasi terhadap lelucon teman, meski sebenarnya hanya dianggap "lumayan lucu".

Baca Juga: Sering Sulit Fokus atau Mudah Lupa? Kenali Fenomena Brain Fog

Fenomena ini sebenarnya juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Saat bertemu tetangga atau rekan kerja, seseorang bisa saja tersenyum meskipun sedang lelah atau memiliki banyak pikiran. Senyum tersebut bukan berarti ia sedang merasa bahagia, melainkan bagian dari norma sosial untuk menunjukkan keramahan. Emoji sering menjalankan fungsi yang serupa dalam komunikasi digital.

Dalam kajian pragmatik, makna sebuah pesan tidak hanya ditentukan oleh kata-kata atau simbol yang digunakan, tetapi juga oleh konteks, hubungan antarpenutur, dan tujuan komunikasi. Karena itu, emoji yang sama bisa memiliki fungsi berbeda. Emoji 😊 dapat menunjukkan kebahagiaan, tetapi juga bisa dipakai untuk mencairkan suasana, meredakan ketegangan, atau sekadar menjaga sopan santun dalam percakapan.

Baca Juga: Perantau di Solo Jangan Sampai Salah Paham! Empat Kosakata Bahasa Jawa Ini Berubah Makna Saat Diulang

Penelitian yang diterbitkan dalam Computers in Human Behavior juga menunjukkan bahwa emoji sering digunakan untuk mengatur kesan yang ingin ditampilkan kepada lawan bicara. Pengguna memilih emoji tertentu agar pesan terdengar lebih hangat, lebih bersahabat, atau lebih mudah diterima. Artinya, emoji bukan hanya alat untuk mengekspresikan emosi, tetapi juga bagian dari strategi komunikasi.

Hal serupa dijelaskan oleh ahli bahasa internet Gretchen McCulloch dalam bukunya Because Internet. Menurutnya, emoji membantu menggantikan isyarat nonverbal yang hilang dalam komunikasi digital. Namun, seperti ekspresi wajah di dunia nyata, penggunaan emoji juga dipengaruhi oleh situasi sosial. Seseorang dapat memilih emoji tertentu bukan karena itulah yang benar-benar dirasakan, melainkan karena ingin menyampaikan kesan tertentu kepada penerima pesan.

Meski begitu, bukan berarti emoji selalu menyesatkan. Dalam banyak situasi, emoji justru membantu mengurangi kesalahpahaman. Kalimat "Terima kasih" yang disertai 😊, misalnya, sering terasa lebih hangat dibandingkan tanpa emoji sama sekali. Sebaliknya, penggunaan emoji yang tidak sesuai konteks juga dapat menimbulkan kebingungan, terutama jika pengirim dan penerima memiliki kebiasaan komunikasi yang berbeda.

Pada akhirnya, emoji memang bukan "alat pendeteksi emosi". Simbol-simbol kecil itu hanyalah sarana komunikasi yang digunakan sesuai kebutuhan pengirimnya. Sama seperti senyum yang tidak selalu berarti bahagia, emoji pun tidak selalu mencerminkan isi hati seseorang. Jadi, lain kali ketika menerima balasan 😊 atau 😂, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa itulah perasaan sebenarnya. Bisa jadi, emoji tersebut hanyalah cara halus untuk menjaga percakapan tetap hangat.

Editor : Kabun Triyatno
emoji pragmatik makna simbol Pesan