RADARSOLO.COM - Belakangan ini, istilah overwhelmed dan overstimulated semakin sering muncul di media sosial. Tidak sedikit orang yang mengaku sedang merasa overstimulated setelah menghadiri konser atau terlalu lama bermain media sosial, sementara yang lain menyebut dirinya overwhelmed karena tugas kuliah dan pekerjaan yang menumpuk.
Meski terdengar serupa, kedua istilah tersebut sebenarnya memiliki makna yang berbeda. Keduanya sama-sama dapat membuat seseorang merasa lelah, sulit berkonsentrasi, hingga ingin menghindari situasi yang sedang dihadapi. Akan tetapi, penyebab dan cara mengatasinya tidak selalu sama.
Baca Juga: Lelah Berkepanjangan? Ini Cara Mengatasi Burnout
Secara sederhana, overwhelmed adalah kondisi ketika seseorang merasa kewalahan karena beban mental, emosional, atau tanggung jawab yang dirasa melebihi kemampuannya untuk mengatasi.
Perasaan ini biasanya muncul ketika seseorang harus menghadapi terlalu banyak tuntutan dalam waktu bersamaan, seperti tugas yang menumpuk, tekanan pekerjaan, masalah keluarga, atau berbagai keputusan yang harus diambil sekaligus.
Dalam kondisi ini, otak sebenarnya masih mampu menerima rangsangan dari lingkungan, tetapi kesulitan mengelola tekanan yang sedang dirasakan. Akibatnya, seseorang dapat merasa bingung, cemas, kehilangan motivasi, hingga tidak tahu harus memulai dari mana.
Baca Juga: Nggak Langsung Jatuh Cinta, Justru Ini yang Bikin Hubungan Slow Burn Terasa Spesial
Sementara itu, overstimulated lebih berkaitan dengan terlalu banyaknya rangsangan yang diterima otak. Kondisi ini dikenal sebagai sensory overload, yaitu ketika otak menerima lebih banyak informasi dari pancaindra daripada yang mampu diproses dalam satu waktu.
Rangsangan tersebut dapat berupa suara bising, cahaya yang terlalu terang, keramaian, notifikasi ponsel yang terus berdatangan, hingga paparan informasi digital yang tidak berhenti. Ketika mengalami overstimulated, seseorang biasanya menjadi lebih mudah tersinggung, sulit fokus, merasa cepat lelah, atau memiliki keinginan kuat untuk mencari tempat yang tenang.
Baca Juga: Hari Anak Nasional 2026, Teknologi Digital Menjadi Tantangan Pola Asuh
Perbedaan paling mendasar terletak pada sumber penyebabnya. Jika overwhelmed berawal dari banyaknya beban yang harus ditanggung, maka overstimulated berasal dari terlalu banyaknya rangsangan yang diterima otak.
Para ahli bahkan menggambarkannya sebagai perbedaan antara "beban" (load) dan "masukan" (input). Overwhelmed terjadi ketika tuntutan hidup terasa melebihi kapasitas seseorang untuk menghadapinya, sedangkan overstimulated terjadi ketika sistem saraf menerima terlalu banyak informasi dalam waktu bersamaan.
Meski berbeda, kedua kondisi ini sering kali saling berkaitan. Seseorang yang seharian menerima notifikasi, menghadiri rapat, bekerja di lingkungan yang bising, dan terus berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi lain dapat mengalami overstimulated.
Jika di saat yang sama ia juga dibebani tenggat pekerjaan, konflik pribadi, atau tekanan akademik, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi overwhelmed. Sebaliknya, seseorang yang sudah merasa kewalahan secara emosional biasanya menjadi lebih sensitif terhadap suara, cahaya, maupun gangguan kecil di sekitarnya.
Oleh karena itu, mengenali penyebab dari apa yang sedang dirasakan menjadi langkah penting sebelum mencari cara mengatasinya. Jika penyebabnya adalah overstimulated, mengurangi paparan rangsangan seperti menjauh dari keramaian, mengistirahatkan diri dari layar gawai, atau mencari tempat yang lebih tenang dapat membantu sistem saraf kembali rileks.
Sebaliknya, jika yang dialami adalah overwhelmed, solusi yang lebih efektif adalah mengurangi beban, menyusun kembali prioritas, membagi pekerjaan menjadi bagian-bagian kecil, atau meminta bantuan kepada orang lain.
Editor : Kabun Triyatno