RADARSOLO.COM – "Kayaknya aku lebih enak cerita ke AI daripada ke orang lain."
Kalimat seperti ini semakin sering dijumpai di media sosial. Ada yang menggunakan chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mencurahkan isi hati, meminta saran saat menghadapi masalah, hingga sekadar berbagi cerita setelah menjalani hari yang melelahkan.
Fenomena tersebut pun memunculkan pertanyaan, mengapa sebagian orang justru merasa lebih nyaman berbicara dengan AI dibandingkan dengan teman atau keluarga?
Baca Juga: Kamu Pemalu? Ekspresikan Saja Melalui Emoji
Salah satu alasannya adalah karena AI dipandang sebagai pihak yang tidak menghakimi. Ketika berbicara dengan manusia, seseorang terkadang khawatir akan dinilai, dikritik, atau ceritanya tersebar kepada orang lain.
Kekhawatiran tersebut dapat membuat seseorang memilih memendam perasaan atau hanya menceritakan sebagian dari apa yang dialaminya.
Sebaliknya, saat berinteraksi dengan AI, banyak orang merasa memiliki ruang untuk berbicara tanpa takut dipotong, dipermalukan, atau dianggap berlebihan. AI juga dapat diakses kapan saja, sehingga pengguna tidak perlu menunggu teman sedang senggang atau merasa sungkan karena khawatir mengganggu orang lain.
Baca Juga: Kok Bisa? Bunyi yang Didengar Sama, tapi Kata yang Lahir di Tiap Bahasa Bisa Beda
Selain itu, AI cenderung memberikan respons yang cepat dan konsisten. Dalam hitungan detik, pengguna dapat memperoleh tanggapan, pertanyaan lanjutan, maupun saran yang terasa relevan. Bagi sebagian orang, pengalaman tersebut memberikan rasa didengarkan, meskipun lawan bicaranya bukan manusia.
Fenomena ini sejalan dengan konsep dalam psikologi yang dikenal sebagai self-disclosure, yaitu proses membuka pikiran, perasaan, atau pengalaman pribadi kepada orang lain. Penelitian menunjukkan bahwa seseorang lebih mudah melakukan self-disclosure ketika merasa aman, diterima, dan tidak takut dihakimi.
Dalam konteks tertentu, AI dapat memberikan kesan sebagai ruang yang netral sehingga pengguna lebih berani mengungkapkan apa yang dirasakannya.
Namun, bukan berarti AI memahami emosi seperti manusia. AI bekerja dengan mengenali pola bahasa dan menghasilkan respons berdasarkan data yang telah dipelajarinya. AI tidak memiliki pengalaman hidup, empati, maupun perasaan sebagaimana manusia. Karena itu, meskipun responsnya dapat terasa hangat atau suportif, AI sebenarnya tidak mengalami emosi yang sama dengan pengguna.
Para peneliti juga mengingatkan bahwa terlalu bergantung pada AI untuk memenuhi kebutuhan emosional dapat memiliki keterbatasan. Hubungan dengan teman, keluarga, atau orang-orang terdekat tetap memiliki peran penting karena manusia mampu memberikan dukungan emosional, bahasa tubuh, ekspresi wajah, serta pengalaman nyata yang tidak dapat digantikan oleh sistem berbasis komputer.
Di sisi lain, AI tetap dapat memberikan manfaat jika digunakan secara proporsional. Misalnya, membantu seseorang menyusun pikiran sebelum berbicara dengan orang lain, merangkum masalah yang sedang dihadapi, atau memberikan sudut pandang awal terhadap suatu situasi. Dalam kondisi seperti itu, AI berfungsi sebagai alat bantu untuk refleksi diri, bukan sebagai pengganti hubungan sosial.
American Psychological Association (APA) juga menekankan bahwa teknologi dapat menjadi pendukung kesehatan mental apabila digunakan secara bijak. Namun, ketika seseorang mengalami tekanan emosional yang berat atau berkepanjangan, dukungan dari tenaga profesional maupun orang-orang terpercaya tetap menjadi pilihan yang lebih tepat dibandingkan hanya mengandalkan AI.
Pada akhirnya, fenomena semakin banyaknya orang yang curhat kepada AI menunjukkan bahwa kebutuhan untuk didengarkan merupakan bagian penting dari kehidupan manusia. AI memang mampu menjadi teman berdiskusi yang selalu tersedia dan tidak mudah menghakimi. Meski demikian, hubungan antarmanusia tetap memiliki nilai yang tidak tergantikan. Mendapatkan pelukan, tatapan penuh empati, atau dukungan langsung dari orang terdekat adalah pengalaman yang hingga kini masih menjadi keunikan interaksi sesama manusia.
Editor : Kabun Triyatno