RADARSOLO.COM – Cara masyarakat mencari informasi di internet mulai berubah. Jika dulu orang terbiasa membuka mesin pencari, mengetik kata kunci, lalu memilih satu per satu situs web yang muncul, kini semakin banyak pengguna yang langsung bertanya kepada kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk memperoleh jawaban.
Fenomena ini dikenal sebagai AI Search, yaitu cara mencari informasi dengan bantuan AI yang mampu memberikan jawaban dalam bentuk ringkasan, bukan sekadar daftar tautan seperti mesin pencari tradisional.
Perubahan tersebut didorong oleh perkembangan teknologi AI generatif dalam beberapa tahun terakhir. Kini, berbagai layanan AI dapat menjawab pertanyaan dengan bahasa yang lebih alami, merangkum informasi dari berbagai sumber, hingga membantu pengguna memahami topik yang rumit dalam waktu singkat.
Baca Juga: Kok Ada Orang yang Hampir Tidak Pernah Pakai Emoji? Ternyata Bukan Berarti Galak
Jika sebelumnya seseorang yang ingin mengetahui penyebab hujan harus membuka beberapa artikel dan membandingkan isinya, kini ia cukup mengajukan pertanyaan kepada AI, lalu memperoleh penjelasan yang telah dirangkum dalam hitungan detik.
Kemudahan inilah yang membuat AI Search semakin diminati, terutama oleh pelajar, mahasiswa, pekerja, maupun masyarakat yang membutuhkan informasi secara cepat.
Selain memberikan jawaban, AI juga dapat membantu menjelaskan istilah yang sulit dipahami, membuat rangkuman artikel, menyusun poin-poin penting dari sebuah dokumen, hingga memberikan penjelasan dengan tingkat bahasa yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.
Baca Juga: Bahasa Jawa Punya Kata-Kata yang "Pas Banget" untuk Kehidupan Sehari-hari
Meski demikian, AI Search bukan berarti menggantikan mesin pencari sepenuhnya. Ada perbedaan mendasar di antara keduanya. Mesin pencari seperti Google pada dasarnya membantu pengguna menemukan sumber informasi, sedangkan AI berusaha menyusun jawaban berdasarkan informasi yang diprosesnya.
Karena itu, pengguna tetap perlu memahami bahwa jawaban AI tidak selalu benar. AI dapat melakukan kesalahan, menyajikan informasi yang sudah tidak terbaru, atau memberikan jawaban yang terdengar meyakinkan meskipun tidak sepenuhnya akurat. Dalam dunia AI, kondisi ini dikenal sebagai hallucination, yaitu ketika sistem menghasilkan informasi yang keliru atau tidak didukung oleh sumber yang valid.
Baca Juga: Dulu Ramai Dipakai, Sekarang Nyaris Hilang. Ke Mana Perginya Kata-Kata Yang Sempat Gaul?
Oleh sebab itu, AI Search sebaiknya digunakan sebagai alat bantu untuk memahami suatu topik, bukan sebagai satu-satunya rujukan. Untuk informasi yang berkaitan dengan kesehatan, hukum, pendidikan, keuangan, atau kebijakan publik, pengguna tetap dianjurkan memeriksa sumber resmi dan membandingkan informasi dari beberapa referensi tepercaya.
Literasi digital menjadi semakin penting di era AI. Kemampuan mencari informasi kini tidak lagi hanya sebatas menemukan jawaban, tetapi juga menilai apakah jawaban tersebut dapat dipercaya. Pengguna perlu membiasakan diri memeriksa asal informasi, melihat apakah AI mencantumkan sumber, serta memastikan data yang disampaikan masih relevan dan mutakhir.
Di sisi lain, AI Search juga membawa perubahan dalam cara masyarakat belajar. Banyak orang kini memanfaatkan AI untuk memahami materi pelajaran, menerjemahkan konsep yang rumit ke bahasa yang lebih sederhana, hingga membantu menyusun kerangka tulisan. Jika digunakan secara bijak, teknologi ini dapat membuat proses belajar dan bekerja menjadi lebih efisien.
Perkembangan AI Search menunjukkan bahwa cara manusia mengakses informasi terus berubah mengikuti kemajuan teknologi. Meski menawarkan kecepatan dan kemudahan, kemampuan berpikir kritis tetap menjadi bekal utama. Sebab, secanggih apa pun AI, pengguna tetap perlu memverifikasi informasi sebelum mempercayai atau membagikannya kepada orang lain.
Editor : Kabun Triyatno