Bukan Berarti Bodoh, Ini Alasan Kamu Bisa Lupa Materi yang Sudah Dipelajari

Annas Rohmanda Purbaningrum • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 18:50 WIB
Lupa materi yang sudah dipelajari bukan berarti seseorang bodoh atau tidak mampu memahami pelajaran. (Gambar: Pinterest)
Lupa materi yang sudah dipelajari bukan berarti seseorang bodoh atau tidak mampu memahami pelajaran. (Gambar: Pinterest)

RADARSOLO.COM - Sudah belajar berjam-jam tetapi beberapa hari kemudian ketika ditanya lagi malah lupa? Bahkan, ada kalanya materi yang semalam masih terasa mudah tiba-tiba seperti hilang dari ingatan saat ujian.

Kondisi seperti ini sebenarnya cukup umum. Lupa materi yang sudah dipelajari bukan berarti seseorang bodoh atau tidak mampu memahami pelajaran. Lupa merupakan bagian normal dari cara kerja memori manusia.

Ketika belajar, informasi yang diterima otak tidak otomatis tersimpan selamanya. Informasi tersebut perlu diperhatikan, dipahami, diproses, dan kemudian disimpan agar bisa diingat kembali ketika dibutuhkan.

Baca Juga: Sering Berhenti di Tengah Buku? Jangan-Jangan Kamu Lagi Reading Slump

Salah satu alasan seseorang mudah lupa adalah cara belajar yang hanya berfokus pada membaca atau mengulang materi. Membaca catatan berkali-kali memang bisa membuat materi terasa familiar, tetapi rasa familiar tidak selalu berarti kita benar-benar mampu mengingatnya tanpa melihat catatan.

Misalnya, saat membaca sebuah halaman buku, kita mungkin merasa memahami seluruh isinya. Namun ketika buku ditutup dan diminta menjelaskan kembali, tiba-tiba banyak bagian yang sulit diingat. Inilah salah satu alasan mengapa mencoba mengingat kembali materi tanpa melihat catatan dapat membantu proses belajar.

Kebiasaan belajar dalam waktu singkat dengan materi yang sangat banyak juga dapat membuat informasi lebih mudah terlupakan. Sistem kebut semalam mungkin membuat seseorang mampu mengingat materi untuk sementara tetapi belum tentu membuat informasi tersebut bertahan lama dalam ingatan.

Baca Juga: Lelah Berkepanjangan? Ini Cara Mengatasi Burnout

Sebaliknya, mempelajari materi secara bertahap dan mengulanginya dalam jeda waktu tertentu dapat membantu memperkuat ingatan. Cara ini dikenal sebagai spaced repetition atau pengulangan dengan jarak waktu.

Selain cara belajar, kondisi tubuh juga dapat memengaruhi kemampuan mengingat. Kurang tidur, misalnya, dapat membuat konsentrasi menurun sehingga proses belajar menjadi kurang optimal. Padahal, tidur juga berkaitan dengan proses otak dalam mengonsolidasikan informasi yang telah dipelajari.

Distraksi juga bisa menjadi penyebab lain. Belajar sambil berpindah-pindah aplikasi, memeriksa media sosial, atau sesekali membalas pesan membuat perhatian terbagi. Akibatnya, informasi yang sebenarnya sedang dipelajari belum tentu masuk ke dalam ingatan secara optimal.

Hal lain yang sering terjadi adalah belajar tanpa memahami hubungan antara materi baru dengan informasi yang sudah diketahui sebelumnya. Materi yang dipahami dalam sebuah konteks biasanya lebih mudah diingat dibandingkan informasi yang hanya dihafalkan tanpa mengetahui maknanya.

Baca Juga: Mengapa Living Together Dianggap Lumrah di Luar Negeri tetapi Masih Diperdebatkan di Indonesia?

Lupa setelah belajar bukan selalu tanda bahwa metode belajar kita gagal. Bisa jadi informasi tersebut memang belum cukup sering digunakan atau dipanggil kembali.

Salah satu cara yang dapat dicoba adalah active recall, yaitu berusaha mengingat kembali materi tanpa langsung melihat buku atau catatan. Setelah membaca satu topik, misalnya, tutup buku kemudian coba jelaskan kembali dengan kata-kata sendiri.

Cara lainnya adalah membuat pertanyaan dari materi yang dipelajari, mengerjakan latihan soal, atau menjelaskan materi kepada orang lain. Dengan begitu, otak tidak hanya menerima informasi, tetapi juga dilatih untuk mengambil kembali informasi tersebut dari ingatan.

Editor : Kabun Triyatno
materi spaced repetition distraksi active recall belajar