RADARSOLO.COM – “Jangan dibuang dulu, siapa tahu nanti kepakai.” Kalimat tersebut sering muncul ketika seseorang hendak membereskan kamar atau rumah. Barang yang sudah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tidak digunakan tiba-tiba terasa sayang untuk dibuang.
Kardus bekas, pakaian lama, kabel yang tidak diketahui kegunaannya, botol, buku, hingga berbagai benda pemberian orang lain dapat terus disimpan dengan alasan yang sama. Padahal, selama ini barang tersebut mungkin hanya memenuhi tempat penyimpanan.
Lantas, mengapa membuang barang yang sudah lama tidak digunakan bisa terasa begitu sulit?
Baca Juga: Bahasa Indonesia Punya Banyak Kata untuk Menggambarkan Keheningan
Bukan Selalu karena Barangnya Berguna
Alasan seseorang mempertahankan barang tidak selalu berkaitan dengan fungsi benda tersebut. Ada kalanya seseorang menyimpannya karena memiliki keterikatan emosional.
Sebuah benda mungkin mengingatkan seseorang pada masa tertentu, orang tertentu, atau pengalaman yang pernah dilalui. Foto cetak, tiket perjalanan, hadiah dari teman, atau pakaian lama misalnya, dapat memiliki nilai sentimental meskipun secara praktis sudah tidak digunakan.
Ketika hendak membuangnya, seseorang tidak hanya merasa seperti kehilangan sebuah benda, tetapi juga seolah-olah melepaskan bagian kecil dari kenangan yang melekat padanya.
Baca Juga: Coba Tebak, Ada Berapa Emoji di HP Anda? Jawabannya Mungkin Bikin Kaget
Ada Efek Psikologis Setelah Memiliki Barang
Dalam psikologi terdapat konsep endowment effect, yaitu kecenderungan seseorang memberikan nilai lebih tinggi terhadap suatu benda setelah benda tersebut menjadi miliknya.
Akibatnya, barang yang sebenarnya biasa saja dapat terasa lebih berharga ketika sudah dimiliki. Seseorang mungkin tidak akan membayar mahal untuk mendapatkan benda serupa, tetapi menjadi berat ketika harus memberikan atau membuang benda yang sudah berada di tangannya.
Hal tersebut dapat menjelaskan mengapa proses membereskan barang terkadang menghasilkan perdebatan kecil dengan diri sendiri.
“Sudah tidak dipakai.”
“Tapi sayang.”
“Dari tahun lalu juga tidak dipakai.”
“Ya, siapa tahu nanti butuh.”
Akhirnya, barang tersebut kembali masuk ke lemari.
“Siapa Tahu Nanti Kepakai”
Selain keterikatan emosional, alasan praktis juga membuat seseorang mempertahankan barang lama. Ada kekhawatiran bahwa benda tersebut suatu saat akan dibutuhkan.
Baca Juga: Sebelum Rengasdengklok, 10 Agustus 1945 Jadi Salah Satu Titik Penting Menuju Proklamasi
Kabel lama mungkin dianggap berguna jika suatu hari membutuhkan kabel cadangan. Kardus disimpan karena mungkin diperlukan ketika pindahan. Pakaian lama dipertahankan karena bisa digunakan untuk kegiatan tertentu.
Masalahnya, kemungkinan tersebut sering kali tidak pernah benar-benar terjadi. Barang tetap berada di tempat yang sama, sementara pemiliknya terus menambah benda baru.
Dalam kondisi seperti ini, barang lama dapat menjadi bagian dari kebiasaan menyimpan “untuk berjaga-jaga”, meskipun kebutuhan yang dibayangkan belum tentu datang.
Yang Sulit Dibuang Kadang Bukan Bendanya
Membereskan barang sebenarnya bukan hanya persoalan menentukan mana yang masih berguna dan mana yang tidak. Ada pula proses emosional yang terjadi ketika seseorang harus melepaskan benda yang sudah lama dimiliki.
Itulah sebabnya satu barang kecil terkadang bisa membuat seseorang berhenti lama sebelum memasukkannya ke tempat sampah.
Pada akhirnya, alasan “siapa tahu nanti kepakai” mungkin memang berkaitan dengan kemungkinan kebutuhan di masa depan. Namun, di baliknya bisa terdapat rasa memiliki, kenangan, atau keengganan untuk melepaskan sesuatu yang sudah menjadi bagian dari kehidupan.
Barangnya mungkin sudah lama tidak digunakan, tetapi cerita yang melekat padanya membuat tangan masih berat untuk membuang. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno