RADARSOLO.COM – “Jangan pakai warna hijau itu, kelihatan miskin.”
Pernah mendengar komentar seperti ini? Di media sosial, warna pakaian terkadang tidak lagi sekadar dianggap persoalan selera. Ada warna yang disebut terlihat mahal, elegan, atau “old money”, sementara warna lain dianggap norak, murah, bahkan dikaitkan dengan kelas ekonomi tertentu.
Padahal, warna pada dasarnya tidak memiliki status sosial.
Hijau tidak dilahirkan sebagai warna orang kaya. Begitu pula hitam, putih, cokelat, merah, atau warna lainnya tidak memiliki kelas ekonomi bawaan. Makna tersebut muncul karena manusia memberikan asosiasi tertentu terhadapnya dan mengulang asosiasi itu dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Kenapa Film Sekarang Sering Punya Adegan Setelah Credit? Ternyata Bukan Sekadar Bonus
Fenomena “hijau kaya” atau “hijau miskin” menjadi contoh kecil bagaimana sesuatu yang sebenarnya netral dapat memperoleh makna sosial.
Dari Warna ke Barang Bermerek
Pola yang sama sebenarnya jauh lebih sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Tas dengan logo merek tertentu dapat langsung membuat seseorang dianggap berasal dari keluarga berada. Rumah besar sering diasosiasikan dengan kesuksesan. Sebaliknya, pakaian sederhana atau rumah berukuran kecil dapat membuat seseorang dianggap kurang mampu.
Baca Juga: Adegan Film Sekarang Makin “Main Aman” di Tengah Frame. Gara-Gara TikTok?
Padahal, apa yang terlihat dari luar hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang.
Sebuah tas mahal, misalnya, tidak otomatis menunjukkan kondisi keuangan pemiliknya. Bisa saja barang tersebut merupakan hadiah, barang thrifting, hasil menabung, atau dibeli karena memang sudah menjadi kebutuhan.
Begitu pula rumah. Ukuran bangunan tidak selalu menggambarkan kondisi ekonomi seseorang secara keseluruhan.
Namun, manusia memang cenderung menggunakan sesuatu yang terlihat sebagai petunjuk untuk menilai hal yang tidak terlihat.
Dalam psikologi sosial, kecenderungan membuat penilaian berdasarkan informasi terbatas semacam ini berkaitan dengan cara manusia membentuk kesan terhadap orang lain. Penampilan, pakaian, lingkungan tempat tinggal, hingga barang yang digunakan dapat menjadi informasi awal ketika seseorang menilai orang lain.
Ketika Asosiasi Diulang Terus
Masalahnya muncul ketika asosiasi tersebut dilakukan berulang kali.
Warna tertentu terus digunakan untuk menggambarkan kemewahan. Model pakaian tertentu dikaitkan dengan kelompok ekonomi tertentu. Merek tertentu dianggap sebagai simbol keberhasilan.
Lama-kelamaan, hubungan tersebut terasa seperti sesuatu yang alamiah.
Baca Juga: Salah Dengar Lirik Bisa Bikin Lagu Jawa Mendunia
Padahal, makna sosial sebuah benda dapat berubah mengikuti tempat, zaman, dan kelompok masyarakat. Sesuatu yang dianggap mahal atau berkelas pada satu lingkungan belum tentu memiliki makna yang sama di lingkungan lain.
Hal tersebut juga menjelaskan mengapa tren seperti quiet luxury atau estetika old money dapat memengaruhi cara orang melihat pakaian. Warna, bahan, potongan pakaian, bahkan cara seseorang membawa tas dapat diberi makna sebagai tanda kelas tertentu.
Padahal, yang berubah bukan warna atau benda tersebut.
Yang berubah adalah cara manusia memaknainya.
Jangan Menilai Seseorang dari Satu Tanda
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah seseorang boleh menyukai warna yang dianggap “mahal” atau membeli barang bermerek.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika simbol tersebut digunakan untuk menentukan nilai seseorang.
Seseorang tidak otomatis lebih sukses karena mengenakan pakaian mahal. Orang lain juga tidak otomatis kurang berhasil hanya karena menggunakan barang sederhana.
Warna, merek, rumah, kampus, pekerjaan, bahkan cara berbicara hanyalah sebagian kecil dari identitas seseorang.
Sebab, manusia jauh lebih kompleks daripada satu warna baju yang sedang dikenakannya. (inayah choirunisa)
Editor : Kabun Triyatno