RADARSOLO.COM - Bisa mengoperasikan smartphone, scrolling media sosial berjam-jam, bahkan hafal berbagai fitur smartwatch. Namun, ketika berhadapan dengan jam dinding analog, sebagian orang justru masih kebingungan membaca posisi jarumnya.
Fenomena ini belakangan ramai diperbincangkan. Jam analog yang dulu menjadi benda sehari-hari kini mulai tergeser oleh tampilan digital. Ponsel, komputer, hingga smartwatch membuat orang cukup melihat angka untuk mengetahui waktu.
Akibatnya, kebiasaan membaca posisi jarum jam pun semakin jarang dilakukan.
Terbiasa Melihat Waktu dalam Bentuk Angka
Salah satu alasan orang kesulitan membaca jam analog adalah karena sejak kecil lebih sering terpapar perangkat digital. Jam digital memberikan informasi waktu secara langsung sehingga pengguna tidak perlu menerjemahkan posisi jarum.
Baca Juga: Ternyata Isi Piring Bisa Ikut Mengatur Mood, Kok Bisa?
Berbeda dengan jam analog. Untuk mengetahui waktu, seseorang harus mengenali dua jarum sekaligus. Jarum pendek menunjukkan jam, sedangkan jarum panjang menunjukkan menit.
Posisi jarum panjang juga harus diterjemahkan dalam kelipatan lima. Ketika jarum panjang berada di angka 7, misalnya, artinya menunjukkan 35 menit.
Bagi orang yang jarang berinteraksi dengan jam analog, proses tersebut tentu terasa lebih rumit dibandingkan sekadar membaca angka seperti 10.35.
Ternyata Bukan Cuma Soal Hafal Angka
Membaca jam analog tidak hanya membutuhkan kemampuan mengenali angka. Ada proses lain yang ikut bekerja, seperti memahami posisi, arah pergerakan jarum, serta hubungan antara jam dan menit.
Baca Juga: Dari Tren 2016 hingga Viral Lagi, Ini Alasan Squishy Bikin Ketagihan
Jam analog juga memberikan gambaran waktu secara visual. Posisi jarum dapat menunjukkan berapa banyak waktu yang telah berlalu atau tersisa. Misalnya, jarum yang berada di angka 6 menunjukkan 30 menit atau setengah jam.
Oleh karena itu, seseorang yang terbiasa dengan tampilan digital bisa merasa posisi jarum lebih sulit dipahami. Mereka harus menerjemahkan simbol visual tersebut terlebih dahulu sebelum mendapatkan informasi waktunya.
Kesulitan memahami angka dan konsep matematika tertentu juga dapat membuat membaca jam analog lebih sulit. Salah satunya adalah dyscalculia, yaitu kesulitan belajar yang berkaitan dengan pemahaman konsep matematika.
Namun, tidak bisa membaca jam analog tidak otomatis berarti seseorang mengalami dyscalculia. Kebiasaan dan kurangnya paparan terhadap jam analog juga menjadi faktor yang dapat memengaruhi kemampuan tersebut.
Masih Penting di Era Digital?
Mungkin muncul pertanyaan, kalau sudah ada smartphone, memangnya masih penting bisa membaca jam analog?
Baca Juga: Ada yang Hobi Gonta-ganti, Ada Juga yang Pakai Barang Sampai Jebol. Kamu Tipe Mana?
Jawabannya, kemampuan tersebut masih berguna. Jam analog masih dapat ditemukan di berbagai tempat, seperti ruang kelas, stasiun, ruang ujian, hingga sejumlah fasilitas umum.
Situasi tertentu juga bisa membuat kemampuan ini terasa penting. Ketika berada di ruang ujian yang melarang penggunaan ponsel atau smartwatch, misalnya, jam dinding analog bisa menjadi satu-satunya penunjuk waktu yang tersedia.
Jika seseorang tidak terbiasa membacanya, memperkirakan waktu yang tersisa selama ujian tentu bisa menjadi tantangan tersendiri.
Selain itu, jam analog membantu seseorang melihat waktu sebagai durasi. Pergerakan jarum memberikan gambaran visual mengenai seberapa banyak waktu yang sudah berlalu atau masih tersisa, bukan sekadar menunjukkan angka pada satu titik waktu.
Baca Juga: Mengenal Istilah Jawa Premium yang Viral di Media Sosial, Apa Maksudnya?
Bisa Dilatih, Kok!
Kabar baiknya, kemampuan membaca jam analog bukan sesuatu yang tidak bisa dipelajari. Keterampilan ini dapat dilatih melalui pembiasaan.
Mulailah dengan mengenali jarum pendek untuk menentukan jam. Setelah itu, pelajari jarum panjang menggunakan pola kelipatan lima.
Jarum panjang di angka 3 berarti 15 menit, angka 6 berarti 30 menit, sedangkan angka 9 berarti 45 menit. Setelah memahami pola tersebut, angka lainnya akan lebih mudah dipelajari.
Cara lainnya adalah memperbanyak paparan terhadap jam analog. Misalnya, menggunakan tampilan jam analog pada lock screen smartphone atau memasang jam dinding analog di kamar dan ruangan yang sering digunakan. (annas rohmanda purbaningrum)
Editor : Kabun Triyatno