RADARSOLO.COM - Kalau belum makan nasi, apakah berarti belum makan?
Pertanyaan sederhana ini mungkin terdengar aneh bagi sebagian orang Indonesia. Pasalnya, nasi sudah begitu melekat dalam keseharian. Mau sarapan, makan siang, sampai makan malam, nasi hampir selalu ada di piring.
Namun, kalau ditarik ke belakang, ternyata tidak semua masyarakat Indonesia sejak dulu menjadikan nasi sebagai makanan utama.
Baca Juga: Di Balik Lomba Makan Kerupuk, Ada Cerita tentang Sulitnya Pangan di Masa Perjuangan
Indonesia punya banyak makanan pokok lain. Di Papua dan Maluku, ada sagu. Di Nusa Tenggara, jagung sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Sementara di sejumlah daerah lain, singkong, ubi, dan berbagai jenis umbi-umbian juga dikonsumsi sebagai sumber makanan sehari-hari.
Lantas, sejak kapan nasi mulai mendominasi?
Jawabannya tidak bisa dilepaskan dari perjalanan sejarah pangan Indonesia.
Pada awal masa kemerdekaan, ketergantungan terhadap beras justru sudah menjadi perhatian. Presiden Soekarno dalam pidatonya pada 1964 pernah mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengandalkan nasi. Ia mendorong konsumsi jagung, ketela, singkong, dan ubi sebagai bagian dari pola makan masyarakat.
Namun, memasuki masa Orde Baru, beras mendapatkan posisi yang jauh lebih kuat.
Baca Juga: Tak Selalu Makan Nasi, Begini Cara Rakyat Bertahan di Tengah Sulitnya Pangan Sebelum Kemerdekaan
Pemerintah saat itu menjadikan peningkatan produksi beras sebagai salah satu prioritas pembangunan. Berbagai program pertanian dijalankan, mulai dari penggunaan bibit unggul, pupuk, irigasi, hingga program Bimbingan Massal atau Bimas.
Tujuannya sederhana, Indonesia ingin punya beras yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sendiri.
Beras pun semakin mudah ditemukan. Distribusinya diperluas ke berbagai daerah dan pemerintah juga berusaha menjaga ketersediaan serta harganya. BULOG kemudian menjadi salah satu lembaga penting dalam mengatur perberasan nasional.
Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada 1984, Indonesia berhasil mencapai swasembada beras.
Namun, ada perubahan lain yang ikut terjadi. Ketika beras semakin mudah diperoleh, kebiasaan makan masyarakat juga perlahan berubah. Nasi yang sebelumnya bukan makanan utama di sejumlah daerah mulai mengambil posisi sebagai makanan pokok.
Dari sinilah istilah berasisasi sering digunakan untuk menggambarkan semakin kuatnya dominasi beras dalam konsumsi masyarakat.
Fenomena ini bukan berarti semua orang tiba-tiba berhenti makan pangan lokal. Perubahannya berlangsung perlahan. Beras menjadi semakin tersedia, sementara makanan lokal mulai kehilangan tempat di tengah perubahan gaya hidup dan pola konsumsi masyarakat.
Baca Juga: Bupati Klaten Terima Kunjungan Menteri PPN, Bahas Penguatan Inovasi Pertanian dan Ketahanan Pangan
Lama-kelamaan, muncul anggapan bahwa makan berarti harus makan nasi.
Padahal, secara geografis, Indonesia tidak hanya memiliki sawah. Ada wilayah yang lebih cocok untuk jagung, ada yang kaya sagu, dan ada pula yang memiliki potensi singkong, ubi, maupun sorgum.
Ketergantungan yang terlalu besar terhadap beras akhirnya kembali menjadi perhatian. Apalagi kebutuhan beras nasional sangat besar, sementara produksi padi bisa terganggu oleh berbagai faktor seperti cuaca, perubahan iklim, hingga keterbatasan lahan. (annas rohmanda purbaningrum)
Editor : Kabun Triyatno